oe diND-om issak-Kasmir
om issak-oe diND-Umen
oe diND-Umen-Kasmir
om issak
oe diND
sepatu oe diND
Rabu, 14 Desember 2011
Kamis, 01 Desember 2011
ANALISIS ID, EGO, DAN SUPER EGO
Judul
Novel : Sang Pemimpi
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang (Anggota IKAPI-PT Bentang
Pustaka)
Jml.
Halaman : 288 halaman
Jml.
Paragraf : 1.067 paragraf
Cetakan
ke : xx, Mei 2008 – xxi, September
2008
Novel
sang pemimpi merupakan novel kedua dari tetralogi Laskar Pelangi. Novel ini
adalah sebuah lantunan kisah kehidupan yang memesona dan akan membuat kita
percaya pada tenaga cinta, yakin pada kekuatan mimpi dan pengorbanan. Lebih
dari itu, akan membuat anda percaya kepada Tuhan. Penulis akan membawa kita
berkelana menerobos sudut-sudut pemikiran dimana kita akan menemukan pandangan
yang berbeda tentang nasib, tantangan intelektualitas, dan kegembiraan yang
meluap-luap, sekaligus kesedihan yang mengharu biru.
“Kita tak ‘kan pernah mendahului nasib”
“Tanpa mimpi dan semangat, orang seperti
kita akan mati”
1.
Id
(Das Es) : Aspek Biologis
Mozaik
1:
Lebih tak masuk akan lagi karena
aku tahu di balik para-para itu berdiri rumah turunan prajurit Hupo, Tionghoa tulen yang menjadi paranoid karena riwayat perang saudara.
(Paragraf 12; Halaman 3)
Mozaik
2:
Wajah
Arai laksana patung muka yang dibuat mahasiswa baru seni kriya yang baru
pertama kali menjamah tanah liat, pencet sana, melendung sini. (Paragraf 102; Halaman 24)
Mozaik
3:
Karena
berkepribadian terbuka, memiliki mentalitas selalu ingin tahu dan terus
bertanya, Arai berkembang menjadi anak yang pintar. Ia selalu ingin mencoba
sesuatu yang baru. (Paragraf 126; Halaman
34)
Mozaik
4:
Saat
itulah seorang wanita gemuk berjilbab yang matanya bengkak memasuki pekarangan.
(Paragraf 144; Halaman 38)
Mozaik
5:
Namanya
kondang sampai ke Tanjong Pandan. Bagaimana tidak, ia mampu menyembuhkan sakit
gigi tanpa menyentuh gigi busuk itu. Bahkan tanpa melihatnya. (Paragraf 245; Halaman 56)
Mozaik
6:
Pada
saat itulah PN Timah Belitong, perusahaan di mana sebagian besar orang Melayu
menggantungkan periuk belanganya, termasuk ayahku, terancam kolaps. (275;67)
Mozaik
7:
Oruzgan
yang seusia dengan aku, Arai, dan Jimbron-baru 17 tahun-ternyata pemimpin
pasukan elite Mujahiddin. (326;84)
Mozaik
8:
Aku
belajar bahwa pria pendiam sesungguhnya memiliki rasa kasih sayang yang jauh
berlebih dibanding pria sok ngatur yang merepe saja mulutnya. (330;87)
Mozaik
9:
Tanpa
kusadari film inilah sesungguhnya cetak biru film Indonesia. para produser film
tak tertarik untuk memproduksi film berbobot yang misalnya merekonstruksi
sejarah. (412;108)
Mozaik
10:
Lapangan
sekolah kami riuh rendah oleh suara ratusan yang manusia menyaksikan hiburan
kocak paling spektakuler. Tak pernah SMA Bukan Main semeriah ini. (492;124)
Mozaik
11:
Diperlukan
intelegensia yang tinggi untuk memahami bahwa buah nangka matang yang menggelembung
sebesar tong, dengan tangkainya yang sudah rapuh, dapat sewaktu-waktu jatuh
berdebam hanya karena dihinggapi kupu-kupu. Intelegensia Jimbron tak sampai ke
sana. (495;128)
Mozaik
12:
Kini
aku telah menjadi pribadi yang pesimistis. Malas belajar. Berangkat dan pulang
sekolah lariku tak lagi deras. Hawa positif dalam tubuhku menguap dibawa
hasutan-hasutan pragmatis. (559;144)
Mozaik
13:
Jika
ada korban petir yang tak langsung tewas, dukun Melayu, dalam hal ini dukun
langit, segera menyalakan api di bawah
tungku yang panjang. Di tungku itu dijejer daun-daun kelapa yang masih hijau
lengkap dengan pelepahnya. Dan di atas daun kelapa itulah sang korban
dipanggang, di-barbeque. Maksudnya untuk mengusir dedemit listrk dari dalam
tubuhnya. Percaya atau tidak, cara ini sering sukses. (618;158)
Mozaik
14:
Ia
merahasiakan semuanya karena mengerti perkara kuda sangat sensitif bagi
Jimbron, di samping ia ingin memberikan kejutan pada sahabat tambunnya itu,
sebuah kejutan yang manis tak terperi. Itulah Arai, dulu pernah kukatakan
padamu, Kawan: Arai adalah seniman kehidupan sehari-hari. (709;184)
2.
Ego
(Das Ich) : Aspek Psikologis
Mozaik
1:
Dan di sini, di sudut dermaga
ini, dalam sebuah ruangan yang asing, aku terkurung, terperangkap, mati kutu. (1;1)
Aku gugup. Jantungku berayun-ayun
seumpama punchbag yang dihantam
beruntun seorang petinju. (2;2)
Mozaik
2:
Tampak
jelas wajah cemasnya menjadi lega ketika melihat kami. (105;25)
Mozaik
3:
Aku
gugup bukan main saat pertama kali keluar kamar dengan gaya rambut Toni
Koeswoyo itu. (128;34)
Mozaik
4:
Kesusahan
seakan tercetak di keningnya. Lahir untuk
susah, demikian stempelnya. (148;38)
Mozaik
5:
Ia
kalut, tak sanggup menjelaskan situasinya pada orang-orang. Lagi pula sudah
terlambat. Beberapa menit di Puskesmas ayahnya meninggal. Sejak itu Jimbron
gagap. (259;61)
Mozaik
6:
Persoalannya,
lebih sadis dari ancaman reptil cretaceous
itu, yaitu berbulan-bulan tak digaji. (278;69)
Mozaik
7:
Kami
juga tak sadar bahwa hari itu langit telah mengisap teriakan ikan duyung sang Capo seperti langit mengisap teriakan Arai yang melantunkan amin
secara kurang ajar untuk membalas Taikong Hamim. (328;84)
Mozaik
8:
Semua
orangtua murid dikumpulkan di aula dengan nomor kursi besar-besar, sesuai
rangking anaknya. Nomor itu dicantumkan dalam undangan. Bukan Pak Mustar
namanya kalau tidak keras seperti itu. Maka pembagian rapor adalah cara yang
dapat membanggakan bagi sebagian orangtua sekaligus memalukan bagi sebagian
lainnya. (344;91)
Mozaik
9:
Sebelum
meninggalkan kami, di pintu bioskop Pak Mustar masih sempat melontarkan ancaman
dengan dingin. Ancaman yang membuat kami tidak bisa tidur dua malam berikutnya,
“Ingin tahu seperti apa neraka dunia? Lihat saja di sekolah hari senin pagi,
Berandal!!” (436;114)
Mozaik
10:
Mengerikan.
Sungguh aku tak sanggup melakukannya. Benar-benar memalukan. Aku demam
panggung. Tapi bagaimanapun kami merasa ini lebih baik daripada dikeluarkan
dari sekolah. (462;120)
Mozaik
11:
Bibirnya
bergetar, wajahnya pucat dan sembap. Air mata menepi di pelupuknya. Napasnya
cepat. Dia sangat terkejut, dia sangat tersinggung. (530;134)
Mozaik
12:
Tak
sepicing pun aku tidur. Aku terpuruk dalam sekali. Tak pernah aku mengalami
malam yang tak kunjung berakhir seperti ini. Dalam situasi moral yang paling renda, kenangan lama yang pedih
seakan hidup kembali, menyerbuku tanpa ampun. (594;150)
Mozaik
13:
Tubuh
Jimbron mendadak sontak menjadi kayu. Mirip orang disambar petir. Tangan
menggantung persis dirigen, atau seperti robot kehabisan baterai. Ia menoleh padaku
tapi tubuhnya tak berbalik, hanya lehernya yang berputar dengan ukuran derajat
yang tak masuk akal. Hampir seratus delapan puluh derajat! Ia seperti burung
hantu. (623;159)
3.
Super
ego (Das Ueber Ich) : Aspek Sosiologis
Mozaik
1:
“Bijaksana kalau kau sumbangkan
jam dindingmu ke kantor pemerintah, agar
abdi negara di sana tak bertamasya ke warung kopi waktu jam dinas! Bagaimana
pendapatmu?” (26;7)
Mozaik
2: -
Mozaik
3:
Dan
seperti kebanyakan anak-anak Melayu miskin di kampung kami yang rata-rata
beranjak remaja mulai bekerja mencari uang, Arai-lah yang mengajariku mencari
akar banar untuk dijual kepada penjual ikan. (123;32)
Mozaik
4:
Lalu
aku tertegun mendengar rencana Arai: dengan bahan-bahan itu dimintanya Mak Cik
membuat kue dan kami yang akan menjualnya. (234;51)
Mozaik
5:
Kepemimpinan
berdasarkan perintah alam itu berakhir sampai orang-orang Pasai membawa Islam
ke suku-suku Melayu pedalaman. (254;58)
Mozaik
6:
“Jelajahi
kemegahan Eropa sampai ke Afrika yang eksotis. Temukan berliannya budaya sampai
ke Prancis. Langkahkan kakimu di atas altar suci almamater terhebat tiada tara:
Sorbone. Ikuti jejak-jejak Sastre, Louis Pasteur, Montesquieu, Voltaire.
Disanalah orang belajar science,
sastra, dan seni hingga mengubah peradaban....” (288;73)
Mozaik
7:
Di
televisi balai desa kami menyimak ulasan Ibu Toeti Adhitama tentang sepak
terjang seorang patriot muda Mujahiddin yang baru saja menumbangkan komandan
resimen utara Tentara Merah Rusia. (325;83)
Mozaik
8:
Metode
Pak Mustar memang keras, tapi efektif. Anak-anak yang dimaki bapaknya itu
biasanya belajar jungkir balik dalam rangka memperkecil nomor kursinya. Mereka
sadar bahwa muka bapaknya dipertaruhkan langsung di depan majelis. (350;92)
Mozaik
9:
Kawan,
tadi sudah kubilang: kelenjar testosteron adalah akar segala kejahatan. Dan
simaklah betapa mengerikannya modus kriminal yang dimotivasi kelenjar itu.
Karena dengan modus itu berarti kami harus sembunyi paling tidak 20 jam di
dalam bioskop yang gelap. (393;102)
Mozaik
10:
Orang-orang
baik itu telah terjebak dalam lingkaran maksiat industri film nasional dan
mendapati kami, para siswa, termanipulasi di dalamnya, membuat mereka jijik
dengan profesinya. (436;115)
Mozaik
11:
“Lihatlah,
apa yang kita dapat dari pembicaraan tentang kuda? Pertengkaran yang buruk
inilah yang kita dapat, Kawanku...,” Kuusahakan gaya bicaraku sebijaksana
mungkin, seperti penyuluh KUA menasihati orang yang ingin talak tiga. (536;135)
Mozaik
12:
Beliau
menghampiri kami dan tersenyum. Senyum itu adalah senyum kebanggan khas beliau
yang tak sedikit pun luntur, persis seperti dulu ketika aku masih di garda
depan. (599;152)
Mozaik
13:
“Lihat kami. Orang Kek. Kami hidup dengan jiwa
perantau. Aku sudah punya bioskop tapi setiap malam masih menghadapi lilin
untuk membungkus kacang. Kalian orang Melayu mana mau begitu.” (618;157)
Selasa, 22 November 2011
Naskah Drama - Petang di Taman
Di
sebuah taman, dengan beberapa buah bangku, orang tua masuk, batuk-batuk, duduk
di bangku. Masuk laki-laki separuh baya, duduk di bangku.
|
Waty
Lia
Waty
Lia
Lia
Waty
Lia
Waty
Lia
Waty
Lia
Waty
Lia
Waty
Lia
Waty
Lia
Waty
Lia
Waty
Lia
Waty
Lia
Waty
Lia
Nona
Lia
Waty
Lia
Waty
Nona
Waty
Nona
Lia
Waty
Lia
Waty
Nona
Lia
|
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
|
“Mau hujan.”
“Apa?”
“Hari mau hujan. Langir mendung.”
“Bukan. Musim kemarau.”
“Di musim kemarau hujan tak turun.”
“Kata siapa?”
(Bunyi guruh)
“Ini bulan apa?”
“Entah.”
“Kalau begitu saya benar. Ini musim hujan.”
“Bulan apa kini rupanya?”
“Entah.”
“Kalau begitu saya benar. Ini musim kemarau.”
“Tidak, tidak! Yang lebih muda mesti tahu
menghormati yang lebih tua. Ini musim kemarau.”
“Tidak, tidak! Yang lebih tua mesti tahu
menghormati yang lebih muda. Ini musim hujan.”
(Terdengar bunyi guruh)
“Kita sama-sama salah.”
“Maksudmu, bukan musim hujan, dan bukan pula
musim kemarau?”
“Habis, mau apa lagi.”
“Beginilah, kalau kita terlalu memuja
hormat.”
“Maumu bagaimana?”
“Lantas?”
“Akan lebih jelas, musim apa sebenarnya
kini.”
“Dan kalau sudah bertambah jelas?”
(diam)
(merenung) “Dan kalau segala-galanya sudah
bertambah jelas, maka kita pun saling bengkak-bengkak, karena barusan saja
telah cakar-cakaran, dan siapa tahu salah seorang dari kita cidera dalam
cakar-cakaran itu, atau keduanya dari kita. Dan ini semua hanya oleh karena
kita telah mencoba mengambil sikap yang agak keras terhadap sesama kita
(tiba-tiba marah). Bah, masa bodoh dengan musim! Dengan segala musim.”
(Bunyi guruh. Tak berapa lama kemudian,
masuk PB. Balon-balonnya beraneka warna)
(kepada PB) “Silakan duduk.”
(bimbang, masih saja berdiri
“Ayo, silakan duduk!” (menepi di bangku)
“Tentu saja dia menjadi ragu-ragu karena Ibu
buat.”
“Kenapa?”
“Pakai silakan segala! Ini ‘kan taman?”
(tiba-tiba marah)
“Dia duduk, kalau dia mau duduk. Dan dia
tidak duduk, kalau dia memang tak mau duduk. Habis perkara! Bah!”
(melihat dengan geramnya kepada PB)
(duduk)
(masih marah) “Mengapa kau duduk?”
“Eh . . . saya mau duduk.”
(tiba-tiba tertawa terpingkal-pingkal)
(sangat marah) “Mengapa Ibu tertawa?”
(dalam tawa) “Karena . . . saya mau tertawa
. . . .” (terbahak-bahak)
(Bunyi guruh. Berhembus angin. Balon-balon
kema hembus. Semua mau terlepas. Cepat PB dan LSB bergumul. Balon-balon
lainnya kini lepas semua dari tangan PB, terbang ke udara. Sebuah balon itu
dapat tertangkap oleh OT, yang kemudian bermain-main gembira,
kekanak-kanakan, dengannya.)
(lepas dari pergulatan dengan PB ia berdiri,
nafasnya satu-satu)
(duduk di tanah, menangis)
(masih dengan gembira ia bermain dengan
botol tadi)
|
|
Waty
Nona
Waty
Lia
Nona
Lia & Waty
Waty
Nona
Lia
Waty
Nona
Lia & Waty
Nona
Waty
Nona
Waty
Nona
Waty
Lia
Waty
Lia
Nona
Lia
Nona
Lia
Nona
|
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
|
(kepada PB) “Mengapa kau menangis?”
(tak menyahut, terus duduk di tanah,
menangis)
(timbul marahnya) “Hei! Mengapa kau menangis?”
(sambil bermain-main terus dengan balon)
“Karena dia memang mau menangis.”
(tiba-tiba) “Bukan! Bukan karena itu!”
(tercengang)
“Kalau begitu, kamu menangis karena apa?”
“Karena balon-balon saya terbang.”
(mengerti) “Ooo! Dia pedagang yang merasa
dirugikan.”
“Ooo, itu!” (merogoh dompetnya dari saku
belakangnya. Dia mengeluarkan uang dua puluh ribuan.) “Nah, in sekadar
pengganti kerugianmu.”
(berdiri) “Tidak!” (duduk di bangku) “Lari
dan tinggalkan aku sendiri.” (tangisnya menjadi) “Saya tidak mau dibayar.”
(serempak) “Tidak mau?”
(menggelengkan kepalanya)
“Mengapa?”
“Saya lebih suka balon.”
(tak mengerti) “Tapi, kau ‘kan penjualnya?”
“Itu hanya alasan saya saja untuk dapat
memegang-megang balom. Saya pecinta balon.”
“Apa-apaan ini?”
“Mengapa merasa aneh? Dia pecinta balon,
titik. Seperti juga orang lain pecinta harmonika, pecinta mobil balap,
pecinta perempuan-perempuan cantik. Apa yang aneh dari ini semuanya?”
(masih belum habis herannya) “Jadi, kau
sebenarnya bukan penjual balon?”
(kepada PB) “Ini, terimalah balonmu
kembali!”
“Tidak, Ibu pegang sajalah terus.”
(heran) “Saya pegang terus?”
“Karena saya lihat, bahwa Ibu juga
menyukainya. Saya suka melihat orang yang suka.”
(tertawa kecil) “Ah, ini bukan lagi kesukaan
namanya, tapi kenangan. Kenangan kepada dulu. Tidak Nak, sebaiknya kau sudi
menerima kembali balonmu ini.”
“Saya tak sudi dan tak berhak menerima
kenangan orang.” (menolak balon)
. . .
|
KAMUS BAHASA DAERAH ENDE
Penyusunan Kamus Bahasa Daerah Ende ini bertujuan untuk mengantisipasi kepunahan bahasa daerah khususnya bahasa Ende. Hal ini perlu dilestarikan karena di zaman serba modern seperti sekarang ini, orang tidak hanya mengabaikan budaya lokal, bahasa daerah pun semakin hari kian tidak dipergunakan. Maka, bantuan dari saudara-saudara sebagai pelestari bahasa sangat diharapkan agar kelangsungan bahasa daerah kita tetap terjaga dan selalu digunakan pada berbagai kesempatan, entah itu yang bersifat formal atau pun non formal. Ada beberapa yang masih kurang. Lain
kesempatan akan saya selesaikan.
Ini dari kita dan kita sendiri yang harus menjaga dan bangga memilikinya.
A
1.
A’i : Kaki : A’i ki neka kere mesu mai ghumbu sa'o =
kakinya terluka saat terjatuh dari atap rumah.
2.
Abe : Mereka : Abe mbana sekola = Mereka pergi ke
sekolah.
3.
Ae : Air : Baba pusi ae pati mbenu = Ayah mengisi
air hingga penuh.
4.
Aga : Ancang-ancang :
So wi pamata kai tau aga-aga ro =
saat akan berkelahi, dia mengambil ancang-ancang.
5.
Aja : Ajar : Ine ki aja re sekola kami = Mamanya
mengajar di sekolah kami.
6.
Ajima : Jimat : Ata mbe’o na pake ajima = Dukun itu
menggunakan jimat.
7.
Aka : Akal : Kai na bodo, aka iwa zatu! = Dia bodoh,
tidak punya akal!
8.
Aki : Suami : Fera aki re ata Waniwona = Fera
bersuamikan orang Waniwona.
9.
Ako- : Gendong :
Ati ako ana ki re one mbeki = Ati
menggendong anaknya di dalam kamar.
10.
Aku- : Mendidih :
Ae ata pedhe na aku peka = air yang
sudah dimasak itu sudah mendidih.
11.
Alu : Air ubi kayu yang
dikeringkan : Kami ka alu re sa’o ka’e Frume = kami
makan alu di rumah kak Frumen.
12.
Ambo : Berlayar : Baba jo mbana ambo re Sumatera = Bapakku
pergi berlayar ke Sumatera.
13.
Ambu : Nenek, kakek : ambu ki za’e mata = Neneknya belum meninggal dunia.
14.
Ambu- : Rebus : Vivi ambu ae = Vivi merebus air.
15.
Amo : Lendir : Ika ata kai
teka na amo peka = Ikan yang dijualnya sudah berlendir.
16.
Ana : Anak :
Kai ana ja’o = Dia anak saya.
17.
Ande : Andai : Ande ki ja’o jadi ata bhanda, jo mbeta mbeja
tana pa na = Andai saya jadi orang kaya,
18.
Ane : Keponakan :
Ane ko Hami ngara ngere Rudi =
Keponakannya Pak hamid namanya Rudi
19.
Anga- : Periuk :
Ine teo anga re ghara = Ibu
menggantung periuk di loteng.
20.
Angi : Angin : Angi wara mai = Angin barat telah datang.
21.
Ango : Lup :
Ja’o ango mozo sodho kai nde = Saya
lupa memberitahu dia.
22.
Ao : Curi (Prokem :
Kau ma’e ao doi ko’o babaku = Kamu
jangan curi uang Bapakmu.
23.
Ao : Ribut : Ma’e ao pa na! = Jangan ribut disini!
24.
Ape : Terasering : ...
25.
Apo : Ampun : Apo ka Ngga’e!
= Ampun ya Tuhan!
26.
Apu : Embun : Ae apu na
minu ngaza = Air embun itu bisa diminum.
27.
Ara : Panas, gerah :
Sa’o na ara mbiraka = Rumah ini
sangat gerah.
28.
Are : Nasi, beras, padi :
Kami muza are re uma ko Ba Joni =
Kami menanam padi di sawah Pak Joni.
29.
Ari : Adik :
Na ari ja’o = Ini adalah adik saya.
30.
Aro : Bubuk mesiu : Delmi na pake aro woso = Peledak itu menggunakan banyak bubuk
mesiu.
31.
Asa : Pagar : Kami kema asa sa’o ko’o Kepala Desa =
Kami membuat pagar rumah Kepala Desa.
32.
Aso : Memar : Babaki pongga aso mema = Bapaknya
memukul hingga memar.
33.
Ata : Orang : Ata na mbani ka re’e = Orang itu sangat
berani.
34.
Ate : Hati : Kai ndezu tu ate ro ja’o = Omongannya
membuat hatiku sakit.
35.
Ate : Membuat ata : Ju mbana ate sa’o Udi = Jul mengerjakan atap rumah Udin.
36.
Atu : Pekat : Tembo na
mite atu zimba = Tembok itu warnanya hitam pekat.
37.
Au : Aur : Ja’o wangga au = Saya memikul aur.
38.
Awa : Ikan terbang : Kami weke ika awa = Kami memancing ikan
terbang.
39.
Awe : Tingkat : ...
40.
Awu : Debu, abu : Sa’o na awu
mbiraka = Rumah itu sangat berdebu.
41.
Aza : Banyak : Ba Ma’i ngaza ika aza rewo mozo = Pak
Ismail mendapat banyak ikan.
42.
Aze : Lalat : Aze keso raki re mbeku = Lalat menginjak
kotoran sampah.
43.
Aze : Tanya : Kai aze zambu ki ata embe = Dia
menanyakan bajunya yang hilang.
44.
Azo : Lirik : Rika azo
zimba ata aki na = Rika terus melirik pria itu.
45.
Azu : Alu, antan : Ine waju are ne’e azu = Ibu menumbuk
beras dengan antan.
B
1.
Ba : Buka : Ba si zamata na! = Buka matamu!
2.
Ba’i : Pahit : Kopi na ba’i mbiraka = Kopi ini sangat
pahit.
3.
Ba’o : Buncit : Tuka ki ba’o = Perutnya buncit.
4.
Baba : Bapak, ayah : Na Baba ko Budi = Ini Bapak Budi.
5.
Badhu : Acuh : Nia ki badhu mesa kalo lewa pa na na =
Dia acuh sekali ketika lewat disini.
6.
Baga : Langkah : Baga zewa! = Langkah panjang.
7.
Bagi : Bagi : Kue na bagi ne ariku ngeni! = Kue itu
bagi dengan adikmu juga!
8.
Baja : Pegal : Kema ndate na tembojo jadi baja = Kerja
berat membuat badanku pegal.
9.
Baje : Meminta-minta : Ana na baje ka re sa’o ata = Anak itu meminta-minta di rumah orang.
10.
Bako : Rokok : Isak musu bako sa zera wozo sembuzu =
Isak mengisap rokok sehari sepuluh batang.
11.
Bala : Bala : Amerika nggena bala = Amerika terkena
bala.
12.
Bale : Balik : Waty bale ika wari = Waty membalik ikan
yang dijemur.
13.
Balo : Balok : Pa Guru na pongga kami ne’e balo = Pak
Guru itu memukul kami dengan balok.
14.
Bando : Nama alat pancing : Kami weke dhoko bando esa rua = Kami memancing dengan membawa dua Bando.
15.
Base : Pembesaran pada
alat kelamin : Kai nggena base = Dia terkena ...
16.
Bata : Batal : Kita bata puasa we’e ka Maghribi = Kita
akan batal puasa menjelang Maghrib.
17.
Bati : Gunting dengan
kaki : Iwan guti Poce pas goce bola = Iwan
menggunting Poce dengan kaki saat menggiring bola.
18.
Bawo : Ikan bawol : Inu mbeta ika bawo re lo = Inu membeli
ikan bawol di pasat.
19.
Baza : Memar : Ine ki pongga kai dhu baza = Ibu
memukulnya hingga memar.
20.
Be : Om : Be pati ka manu = Om memberi makan pada
ayam.
21.
Beba : Berontak,
mengoyangkan badan : Maru beba karna uzu ki mbanga = Maru
berontak karena kepalanya terbakar.
22.
Bebe : Bebek : Baba jo piara bebe eko wutu = Bapakku
memelihara bebek empat ekor.
23.
Bebi : Berontak
24.
Beca : Becak
25.
Bede : Mungil
26.
Bedha : Bunyi kentut
27.
Bedo : Ikut, seperti : Kai pake zambu bedo ne ja’o = Dia pakai
baju seperti saya.
28.
Bedu : Hentak : Ma’e bedu a’i pa na = Jangan hentakan
kaki disini.
29.
Befa : Panggung : Kami kema befa
nika ko’o Loly = Kami membuat panggung pernikahan Loly.
30.
Begi : ...
31.
Begu : Penat
32.
Beji : Adu : Gesta beji ja’o ne’e Ijong pamata =
Gesta adu saya dengan Ijong untuk berkelahi.
33.
Beka : Menaikkan (layangan) : Awi
beka laya-laya re ma’u = Awi menaikkan layang-layang di pantai.
34.
Beku : Suruh : Waty beku Lia wi teki ae = Wati menyuruh
Lia untuk menima air.
35.
Bele : Kaleng :
36.
Bele : Om : Ja’o niu Aziz bele = Saya memanggil
Aziz, Om.
37.
Belo : Belok
38.
Beo : Buah ...
39.
Bepo : Menutup mata, merem
40.
Bera : Totokan ayam
41.
Bere : Menutup mata, merem
42.
Bero : Celana
43.
Beru : Celana
44.
Besa : Pukul
45.
Besi : Labu
46.
Beso : Terlepas
47.
Bete : Gigitan
48.
Beto : Terkena perangkap
49.
Bewe : Murung
50.
Beza : Sepat
51.
Bezo : Melenceng
52.
Bha : Piring
53.
Bhabha : Ginjal
54.
Bhanda : Kaya
55.
Bhando : Terlempar ke belakang
56.
Bhane : Pilek
57.
Bhanggo : Balut
58.
Bhara : Putih
59.
Bhata : Terangkat
60.
Bhato : Terlempar
61.
Bhaze : Pulang, balik
62.
Bhazo : Tidak mau
63.
Bhazu : Lambung
64.
Bheja- : Gertak
65.
Bheka : Membengkak
66.
Bheku : Anai-anai
67.
Bhena : Rata, datar
68.
Bhene : Pilek
69.
Bheo : Protes
70.
Bhero : Lilit
71.
Bhesa : Kecap
72.
Bheso : Sukar
73.
Bheti : Cungkil
74.
Bheti : Kutik
75.
Bheto : Bambu
76.
Bhetu : Perut besar
77.
Bhewa : Melepaskan
78.
Bheza : Petir
79.
Bhia : Buka mata
80.
Bhinggu : Keseleo
81.
Bhisa : Mujarab
82.
Bhito : Terangkat
83.
Bho : Muntah
84.
Bhoasa : Koar
85.
Bhoka : Tunas
86.
Bhoko : Pendek
87.
Bhoku : Tabung
88.
Bhore : Penggal
89.
Bhota : Belut
90.
Bhoti : Menutup (tanah)
91.
Bhotorozo : Banyak
omong
92.
Bhowa : Terkulai
93.
Bhoze : Bogem
94.
Bhozo : Bodoh
95.
Bi’i : Didih
96.
Bidi : Gentar, takut
97.
Bila : Bilal
98.
Bine : Ban dalam
99.
Bira : Bunyi (kentut,
dsb)
100. Bisi : Menjulurkan bibir bawah
101. Bita : Lumpur
102. Biu : Kuat
103. Bo : Hubungan seks
104. Bo’e : Bentol
105. Boba : Liar
106. Boda : Labu panjang
107. Bodo : Bodoh
108. Boge : Potong
109. Bogu : Bisul
110. Boi : Nama permainan
111. Boje : Membesar
112. Boka : Membeli ikan
113. Boko : Baskom
114. Bola : Bola
115. Bora : Sapaan halus utk memanggil teman
116. Bore-bore : Sejenis kemangi
117. Boro : Borong
118. Bosa : Sebutan lain utk alat kelamin lk
119. Boso : Memar
120. Bota : Botak
121. Boti : Botol
122. Boto : Judi
123. Bou : Kumpul; Arisan
124. Boze : Ramai
125. Bu : Paman
126. Bu’i : Bagi; potong
127. Buda : Budak
128. Budhi : Kecil, mini
129. Budu : Hentakan
130. Bue : Tandan dlm tenunan
131. Buge : Peluru mainan yg terbuat dr karet
132. Bugu : Rajin
133. Buja : Sepat
134. Bura : Buang air ludah
135. Busa : Sampai; Tunggu
C
1.
Capo : Campur
2.
Ce : Cat, Mewarnai
3.
Ceko : Tepung jagung yg
digoreng
4.
Celo : Pewarna kain
5.
Cere : Cerek
6.
Core : Coret
D
1.
Da’e : Dower : Kumba kau da’e = Bibirmu dower
2.
Dabu : Pelepah kelapa : Kami nggae dabu re uma = Kami mencari pelepah kelapa di kebun
3.
Dada : Kue dadar; robek
besar : Ine kema kue dada pati ari jo = Ibu membuat kue dadar untuk adikku
4.
Daga : Dagang : Baba ja’o ozo kema ki daga pakea =
Pekerjaan Bapakku adalah seorang berdagang pakaian
5.
Dagi : Daging : zera na kami pes dagi manu = hari ini
kami makan daging ayam
6.
Dana : Buncit : ana na tuka ki dana = Anak itu perutnya
buncit
7.
Danda : Dandang :
Mama kuku roti re danda = Mama
mengukus roti di dandang
8.
Dao : Alat untuk menenun :
9.
Dasi : Dacin : Ba were timba ika ne’e dasi = Pak Were
menimba ikan dengan menggunakan dacin/timbangan
10.
Dawu : Mengantongi : Lisa dawu pau wazo naka = Lisa mengantongi mangga hasil curian
11.
Deba : Diba : kami baca deba re sa’o ko’o Iwan = Kami
membaca diba di rumah Iwan
12.
Degi : Kadal : Degi pesa tazo = Kadal tidak bisa
dimakan
13.
Dego : Sebutan lain utk
Pelir :
14.
Degu : Menanduk : Kai degu saza uzu ki re kembi = Dia
menanduk kepalanya di dinding
15.
Deka : Pinang kering : Ine weti pake ne’e deka = Ibu ‘makan sirih pinang’ dengan pinang
kering
16.
Deka-deka : Sempoa : Noe reke pake deka-deka = Noe menghitung
menggunakan sempoa
17.
Dena : Tumit : Dena a’i ki raki paleki = Tumitnya
sangat kotor
18.
Depa : Rentang : Noken mozu ae mesi depa zima esa = Noken
tenggelam air laut setinggi enam rentang
19.
Dero : Drum : zengi
tana ine Mbejo wezu re dero mere = Minyak tanah Bu Mbejo ditaruh di drum besar
20.
Dezo : Kolong : Doi mesu re dezo ozo eru = Uang jatuh di
kolong tempat tidur
21.
Dha : Meluruskan (kaki) : Ba Jeki dha a’i ki = Pak Jeki meluruskan kakinya
22.
Dhadha : Kebesaran : Tinu pake zambu dhadha = Tinu mengenakan
baju yang kebesaran
23.
Dhadhi : Lahir : Ana ko Bute dhadhi numai = Anaknya Bute
lahir kemarin
24.
Dhadho : Coli
25.
Dhai : Ingin ikut :
Boni dhai mama ki = Boni ingin ikut
mamanya
26.
Dhajo : Duduk : Roki dhajo re kadera = Roki duduk di
kursi
27.
Dhaki : Sulut, Jangkit : Penyaki kai dhaki mbeja sa nua = Penyakitnya menjangkit sampai
sekampung
Langganan:
Postingan (Atom)
