Senin, 06 Agustus 2012

Proposal Penelitian_Variasi Fonologis Morfem Bahasa Ende


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Bangsa Indonesia memiliki banyak sekali suku, ras, maupun bahasa dengan dialek yang beragam. Ada suku Minang yang berbahasa Minang dengan dialeknya masing-masing, ada suku Jawa yang berbahasa daerah Jawa dan Sunda dengan masing-masing dialeknya, ada suku Flores yang berbahasa Manggarai, Bajawa, Nagekeo, Ende, Lio, Sikka dan Lamaholot dengan dialeknya, dan lain-lain.
Kabupaten Ende sendiri terdapat dua bahasa daerah, yakni bahasa Ende dan bahasa Lio. Bahasa Ende digunakan oleh masyarakat Ende yang berdiam hampir di sepanjang daerah pesisir Barat Kabupaten Ende dan bahasa Lio digunakan oleh masyarakat Lio yang tersebar di daerah pegunungan dan sebagiannya tersebar di wilayah bagian Timur dan pantai Utara Kabupaten Ende. Kedua suku ini memiliki bahasa yang hampir sama namun mempunyai dialek dan aksen (tekanan suara pada kata atau suku kata) yang berbeda.
Masyarakat penutur bahasa Ende menggunakan bahasa daerahnya, selain untuk keperluan komunikasi sehari-hari juga digunakan untuk keperluan adat istiadat yang digunakan saat upacara-upacara adat.
Sebagai alat komunikasi yang digunakan sehari-hari, masyarakat penutur bahasa Ende menggunakan bahasa daerahnya untuk berbagai macam keperluan atau kegiatan. Banyaknya kegiatan yang dilakukan menyebabkan beragamnya pula bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi. Keragaman bahasa ini pula terlihat pada struktur fonologis maupun morfologisnya. Selain itu, faktor yang menyebabkan adanya variasi fonologis pada Bahasa Ende adalah kesamaan situasi dan tempat digunakannya kata tersebut. Kesamaan situasi dan tempat di sini maksudnya adalah kata-kata yang salah satu fonemnya berbeda, digunakan pada tempat dan situasi yang sama dalam kalimat, memiliki makna yang sama. Sebagian besar jenis kata yang memiliki variasi fonologis dalam bahasa Ende adalah kata kerja.
Contoh, kata <zangga> dan <pangga> sama-sama memiliki arti langkah atau melangkah, namun kata <zangga> digunakan untuk langkah kaki, sedangkan kata <pangga> digunakan untuk langkah jari tangan atau jengkal dan diistilahkan untuk ‘orang yang sengaja memperlambat langkahnya’. Secara fonologis, perbedaan kedua kata tersebut terletak pada fonem konsonan [z] atau [rh] untuk sebutan dalam bahasa Ende pada kata <zangga> dan fonem konsonan [p] pada kata <pangga>. Fonem konsonan [p] secara umum direalisasikan sebagai bunyi [p] baik sebagai onset pada sebuah silabel maupun sebagai koda seperti halnya dalam penyebutan untuk kata dalam bahasa Indonesia seperti potong, pagar, dan sebagainya. Sedangkan lafal fonem konsonan [z] pada kata <zangga> bukan seperti pada kata <zaman> dalam lafal bahasa Indonesia. Kedua fonem konsonan ini berasal dari tempat artikulasi yang berbeda, namun jika dilihat dari ciri fonetisnya keduanya sama-sama merupakan fonem konsonantal dan anterior. Secara ortografis, dalam bahasa Ende, <zangga> ditulis [rhaŋga] dan kata <pangga> ditulis [paŋga]. Sama halnya fonem [k] pada kata [kɘdhu] dan fonem [w] pada kata [wɘdhu] yang artinya mencabut dan dalam ciri fonetis konsonan sama-sama merupakan bunyi velar.
Sama halnya dengan fonem vokal pada jenis kata benda berikut ini. Fonem vokal /e/ pada kata <zase> dan fonem vokal /u/ pada kata <zasu> yang sama-sama memiliki arti penis (alat kelamin pria) atau dipakai untuk makian. Pada umumnya bunyi vokal depan seperti /e/ dan /i/ diucapkan dengan bibir dilebarkan sedangkan vokal belakang seperti /u/ dan /o/ diucapkan dengan bibir dibulatkan. Secara ortografis, fonem vokal /e/ dan /u/ ditulis  sama seperti bunyi asalnya yakni [e] dan [u] dan sama pula pelafalannya pada kata sate dan susu dalam bahasa Indonesia karena kata tersebut merupakan silabel terbuka.
Secara fonografi (ejaan berdasarkan lafal) vokal [u] pada kata <zasu> dan vokal [e] pada kata <zase> ini merupakan dua buah vokal yang sangat jauh berbeda dalam proses menghasilkannya. Akan tetapi, penutur Bahasa Ende (BE) secara konvensional memunculkan vokal [u] sehingga menjadi sepadan dengan vokal [e] yang sebenarnya berbeda. Perbedaan dalam pembuatan ini terlihat pada tinggi rendahnya lidah, posisi lidah, ketegangan lidah, dan bentuk bibir.
Menurut Dardjowidjojo (2005:38), kriteria yang dipakai untuk membentuk bunyi vokal adalah (1) tinggi-rendahnya lidah, (2) posisi lidah, (3) ketegangan lidah, dan (4) bentuk bibir.
Vokal [e] merupakan bunyi yang dihasilkan dengan posisi lidah dinaikkan setengah atau biasa disebut tengah-depan. Sedangkan, vokal [u] merupakan bunyi yang dihasilkan dengan posisi lidah bagian belakang (dorsum) dinaikkan hingga hampir menyentuh langit-langit lunak (velum/velar).
Oleh karena dalam bahasa Ende tidak mengenal suku tertutup, maka setiap vokal yang terdapat dalam setiap kata ditulis sama seperti bunyi asalnya atau penyebutannya. Jadi, bunyi vokal /a/, /i/, /u/, /e/, /ә-∂/, dan /o/ tetap ditulis [a], [i], [u], [e], [ә/∂], dan [o].
Dari uraian pada latar belakang di atas, peneliti mengambil judul Variasi Fonologis Bahasa Ende sebagai tema pokok dalam melakukan penelitian. Adapun hal yang secara spesifik yang akan diteliti adalah morfem-morfem dalam bahasa Ende yang memiliki variasi pada struktur fonologisnya seperti beberapa kata yang telah diuraikan di atas.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, peneliti membuat rumusan sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah variasi fonologis morfem bahasa Ende?
2.      Faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan adanya variasi fonologis tersebut?


1.3  Tujuan Penelitian
Dalam penelitian apapun pasti seorang peneliti memiliki tujuan atas penelitiannya tersebut. Adapun tujuan dari penelitian ini ada 2 macam, yakni tujuan umum dan tujuan khusus.
1.3.1        Tujuan Umum
Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi fonologis yang terdapat dalam bahasa Ende serta untuk menemukan faktor-faktor yang menyebabkan adanya variasi fonologis tersebut.
1.3.2        Tujuan Khusus
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk:
1.      Menemukan dan mendeskripsikan variasi fonologis yang terdapat dalam bahasa Ende.
2.      Menemukan dan mendeskripsikan faktor-faktor yang menyebabkan munculnya variasi fonologis morfem dalam bahasa Ende.

1.4  Manfaat Penelitian
Tentunya tiap penelitian dapat menjawab permasalahan dan hasilnya dapat bermanfaat bagi semua pihak, lebih khusus pada pembelajar bahasa, baik bahasa Indonesia maupun bahasa daerah. Adapun manfaat dalam penelitian ini dibagi atas manfaat teoretis dan manfaat praktis.
1.4.1        Manfaat Teoretis
Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam mengembangkan teori Fonologi sehingga pembelajar bahasa dapat mengetahui perbedaan tiap variasi bahasa dalam hal ini adalah variasi pada struktur fonologis pada bahasa daerah. Selain itu, diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan untuk peneliti selanjutnya yang ingin meneliti hal yang sama sebagai bahan kajian kepustakaannya.
1.4.2        Manfaat Praktis
Adapun manfaat praktis dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Sebagai bahan informasi untuk masyarakat yang menggunakan bahasa Ende namun tidak mengetahui variasi fonologis pada setiap kata atau morfem dalam bahasanya.
2.      Untuk dipelajari lebih lanjut di dunia pendidikan, khususnya pendidikan kebahasaan.
3.      Sebagai bahan pustaka bagi peneliti-peneliti selanjutnya yang hendak meneliti objek yang sama sehingga mempermudah proses penelitian.
4.      Sebagai bahan kajian ilmu kebahasaan, lebih khusus pada bahasa daerah.





BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KONSEP DAN TEORI

2.1    Kajian Pustaka
Kajian pustaka merupakan telaah atas teori terkait dengan tema penelitian (Marietta, 2011:29).
Kesuma (2007:36 dalam Muhammad 2011:108) menyebutkan bahwa terdapat tiga fungsi kajian pustaka, yaitu (1) untuk memastikan pernahnya masalah yang lagi diteliti dilakukan oleh peneliti lain; (2) apakah masalah yang diteliti dikaji secara komperhensif, lengkap dan hasinya memuaskan atau tidak; dan (3) mengungkapkan kekhasan atau perbedaan masalah yang akan diteliti.
Beberapa penelitian mengenai bahasa Ende telah dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu untuk menyelesaikan skripsi maupun karya ilmiah lainnya. Di antaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Sandro (2011) mengenai Proses Morfofonemik Bahasa Ende Dialek Nangapanda, Desa Sanggarhorho, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah proses morfofonemik yang terdapat dalam bahasa Ende dialek Nangapanda Desa Sanggarhorho dan kata-kata dalam bahasa Ende yang mengalami proses morfofonemik. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa morfologi prefiks pe- menjadi pa-, dan se- menjadi sa- dipengaruhi oleh dialektika bahasa Ende dialek Nangapanda Desa Sanggarhorho. Pembentukan kata dari bentuk dasar yang diberi prefiks pe-, pa-, se-, dan prefiks sa- mengalami perubahan arti dan perubahan bunyi.
Peneliti juga merujuk pada penelitian yang telah dilakukan oleh Riyono (2009) tentang Variasi Fonologis dan Morfologis Bahasa Jawa di Kabupaten Pati (http://ahdiriyono.blogspot.com/2009/07/bahasa.html). Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah variasi fonologis pemakaian bahasa Jawa di Kabupaten Pati dan variasi morfologis pemakaian bahasa Jawa di Kabupaten Pati. Penelitiannya berfokus pada variasi fonem vokal dan konsonan yang terjadi di daerah perkotaan dan pedesaan seperti bunyi [i] menjadi [I], dan [I] menjadi [E]. Hasil penelitiannya menjelaskan bahwa variasi fonologis pemakaian bahasa Jawa di Kabupaten Pati terbentuk karena penutur berasal dari kelompok sosial yang berbeda dan faktor keadaan alam, yaitu letak wilayah tempat tinggal penutur. Perbedaan dengan bahasa Jawa lainnya hanya terletak pada dialek saja.
Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Isaura (2011) dengan judul Variasi Fonologis Bahasa Jawa di Kabupaten Pemalang (http://lib.unnes.ac.id/11048/). Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu variasi fonologis yang terdapat dalam bahasa Jawa Kabupaten Pemalang. Adapun hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa adanya variasi fonologis disebabkan karena beragamnya dialek yang digunakan di Kabupaten Pemalang. Variasi Fonologis yang terjadi yaitu pada bentuk fonem vokal bahasa Jawa di Kabupaten Pemalang yang berupa 10 variasi fonem vokal /a/, /∂/, /|/, /ǝ/‚ /   /, /u/, /U/, /I/, /i/, /O/, /o/, dan variasi fonem konsonan bahasa Jawa Kabupaten Pemalang, yaitu /p/, /s/, /n/, /j/, /m/, /b/, /g/, /k/, /c/, /t/, /th/, /l/, /h/, /y/, /r/, /d/, /dh/. Terdapat 18 gugus konsonan bahasa Jawa di Kabupaten Pemalang, distribusi fonem vokal dan konsonan dapat menduduki semua posisi kecuali /∂/ pada fonem vokal di posisi akhir dan /n/, /j/, /c/, /w/ di bagian akhir, sedangkan untuk distribusi gugus konsonan bahasa Jawa tidak ditemukan di bagian akhir.
Adapun persamaan dari beberapa penelitian yang disebutkan di atas dengan penelitian mengenai Variasi Fonologis Morfem Bahasa Ende ini adalah sama-sama meneliti tentang variasi pada bahasa daerah dalam bidang fonologi. Bedanya, jika dalam penelitian-penelitian yang disebutkan di atas meneliti tentang variasi fonogis dan morfologis secara umum dalam bahasa daerahnya, maka penelitian ini hanya dilakukan pada variasi fonologis pada beberapa morfem dalam bahasa daerah Ende.
Pada penelitian ini, peneliti mengambil judul Variasi Fonologis Morfem Bahasa Ende dengan merujuk pada beberapa penelitian yang telah dilakukan di atas.

2.2    Konsep
2.2.1        Variasi Fonologis
Variasi (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah 1. tindakan atau hasil perubahan dari keadaan semula; selingan; 2. bentuk (rupa) yang lain; yang berbeda bentuk (rupa); 3. hiasan tambahan; 4. wujud pelbagai manifestasi, baik bersyarat maupun tidak bersyarat dari suatu satuan.
Variasi fonologis adalah variasi pemakaian bunyi yang bersifat fonetis dan tidak membedakan makna. Variasi tersebut terbentuk karena penutur berasal dari kelompok sosial yang berbeda dan faktor keadaan alam, yaitu letak wilayah tempat tinggal penutur.
Variasi fonologis dalam pemakaian Bahasa Ende juga dipengaruhi oleh beberapa faktor tersebut.
Pendapat lain menyatakan bahwa variasi fonologi adalah variasi pemakaian bunyi yang bersifat fonetis dan tidak membedakan makna. Variasi tersebut terbentuk karena letak wilayah tinggal penutur dan kelompok sosial penutur yang berbeda, sehingga menimbulkan pengucapan fonem yang berbeda.
Nadra dan Reniwati (2009:23) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan variasi fonologis adalah variasi bahasa yang terdapat dalam bidang fonologi, yang mencakup variasi bunyi dan variasi fonem.
Contoh variasi fonologis antara lain terjadi penambahan bunyi, pelesapan bunyi, pergeseran bunyi, dan sebagainya. Dalam bahasa Ende, penambahan bunyi terjadi seperti pada kata <kae> dimana muncul bunyi glotal (penghamzahan) antara fonem vokal [a] dan [e] atau dalam bidang linguistik bunyi ini ditulis seperti tanda tanya (?). sedangkan pelesapan bunyi terjadi pada kata <miu> yang artinya kalian, dimana fonem vokal [i] dilesapkan atau dihilangkan ketika diikuti kata ganti orang seperti <ine miu> menjadi <ine mu> atau <kau>. Juga kata <sai> menjadi <si> seperti terjadi pada kata <tau sai> menjadi <tau si> yang artinya lakukanlah atau buatlah.

2.2.2        Morfem
Morfem (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah satuan bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna secara relatif stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil. Atau dengan kata lain, morfem adalah kesatuan yang ikut serta dalam pembentukan kata dan yang dapat dibedakan artinya.
Menurut Ramlan (2009:32), morfem adalah satuan gramatik yang paling kecil; satuan gramatik yang tidak mempunyai satuan lain sebagai unsurnya. Ada pula yang mendefinisikan morfem sebagai bentuk bahasa yang dapat dipotong-potong menjadi bagian yang lebih kecil, yang kemudian dapat dipotong lagi menjadi bagian yang lebih kecil lagi begitu seterusnya sampai ke bentuk yang jika dipotong lagi tidak mempunyai makna.
Satuan bahasa merupakan komposit antara bentuk dan makna. Oleh karena itu, untuk menetapkan sebuah bentuk adalah morfem atau bukan didasarkan pada kriteria bentuk dan makna itu (Chaer, 2008:13).
Contoh morfem seperti kata <keadaan> yang dapat dipotong-potong menjadi <ke-> sebagai prefiks (imbuhan awalan), <ada> sebagai kata asal, <-an> sebagai sufiks (imbuhan akhiran), <ke-an> sebagai konsfiks (imbuhan gabungan), dan <keadaan> sebagai kata jadian (proses pengimbuhan). Pecahan-pecahan tersebut di atas itulah yang disebut sebagai morfem, baik sebagai morfem bebas maupun morfem terikat.

2.2.3        Bahasa dan Bahasa Daerah
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Bahasa ialah 1. sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengiden-tifikasikan diri; 2. percakapan (perkataan) yang baik; tingkah laku yang baik; sopan santun: budi bahasa atau perangai serta tutur kata menunjukkan sifat dan tabiat seseorang (baik buruk kelakuan menunjukkan tinggi rendah asal atau keturunan). Sedangkan, bahasa daerah adalah bahasa yang lazim dipakai di suatu daerah; bahasa suku bangsa (Kamus Besar Bahasa Indonesia offline).
Bahasa merupakan sistem tanda bunyi ujaran yang bersifat arbitrer atau sewenang-wenang (Subroto, 2007:12 dalam Muhammad, 2011:40).
Kridalaksana (1983) dan juga dalam Koentjono (1982) dalam Muhammad (2011:40) menyatakan bahwa bahasa merupakan sistem lambang bunyi arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri.
Ada pula yang menyatakan bahwa bahasa adalah sistem tanda bunyi yang disusun berdasarkan kesepakatan bersama yang digunakan sebagai alat komunikasi dalam rangka menjalankan interaksi sosial.

2.2.4        Bahasa Ende
Kabupaten Ende adalah salah satu dari belasan kabupaten yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kabupaten Ende terletak hampir tepat berada di tengah-tengah Pulau Flores. Kabupaten yang merupakan tempat lahirnya falsafah Negara Indonesia ini mempunyai dua suku, yaitu: Suku Ende dan Suku Lio. Suku Ende tersebar hampir di sepanjang daerah pesisir Barat Kabupaten Ende sedangkan Suku Lio tersebar di daerah pegunungan dan sebagiannya tersebar di wilayah bagian Timur dan Utara Kabupaten Ende.
Bahasa Ende adalah salah satu bahasa daerah yang terdapat di Pulau Flores yang digunakan oleh penutur asli Ende yang secara historis berada pada satu garis proto dengan bahasa Lio. Dikatakan satu proto karena dilihat dari struktur fonologis, morfologis dan sintaksisnya kedua bahasa ini memiliki kesamaan pada beberapa fonem dan morfem.
Kata ‘Bahasa’ dalam bahasa Ende disebut ‘Sara’. Bahasa Ende dibagi menjadi dua, yaitu Bahasa Ende dan Bahasa Lio. Bahasa Ende digunakan oleh masyarakat Suku Ende, sedangkan Bahasa Lio digunakan oleh masyarakat Suku Lio. Kedua suku ini mempunyai bahasa yang hampir sama namun, kedua bahasa ini mempunyai dialek dan aksen yang berbeda. Akan tetapi, kedua bahasa ini mempunyai kosakata yang mirip, hanya saja terdapat sedikit perbedaan pada huruf konsonan yang digunakan dalam banyak kata, misalnya, lambu (Bahasa Lio) dan zambu (Bahasa Ende) untuk baju, selake (Bahasa Lio) dan sezake (Bahasa Ende) untuk celana, lako (Bahasa Lio) dan zako (Bahasa Ende) untuk anjing, zera (Bahasa Ende) dan leja (Bahasa Lio)  untuk terik, raza dan jala (Bahasa Lio)  untuk jalan, iza (Bahasa Ende) dan ila (Bahasa Lio)  untuk lampu, raka (Bahasa Ende)  dan jaka (Bahasa Lio)  untuk rebus atau merebus, dan masih banyak lainnya.

2.3  Teori
Dalam sebuah penelitian tentu seorang peneliti membutuhkan data yang akurat serta rill. Data yang akurat dan rill ini akan dijadikan peneliti sebagai  acuan dalam menganalisis penelitiannya. Oleh karena itu, peneliti menggunakan teori yang sesuai dengan penelitiannya untuk dijadikan acuan atau pedoman untuk menganalisis tiap data yang diteliti. Teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan kenyataan di lapangan. Selain itu, landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian.
Teori adalah sekumpulan proposisi yang saling berkaitan secara logis untuk memberikan penjelasan mengenai sejumlah fenomena (Liang, 1984:57 melalui Kesuma (2007:37 dalam Muhammad, 2011:109).
Dengan melihat definisi yang diutarakan oleh Kridalaksana, Muhammad (2011:109) berpendapat bahwa teori tidak hanya sekedar hipotesis, tetapi lebih pada penjelasan berdasarkan konsep dan argumen tentang suatu fenomena, misalnya bahasa.
Dalam penelitian bahasa, yang berobjekkan fonem, morfem, kata, frase, klausa, kalimat, teks, wacana, makna, pengguna, dan penggunaan bahasa dapat dijelaskan oleh teori, yaitu teori bahasa (Muhammad, 2001:111).
Adapun teori yang digunakan sebagai acauan peneliti dalam menganalisis data, yakni teori fonologi tentang morfofonemik. Chaer (2009:1) memberikan batasan bahwa fonologi adalah sebuah ilmu kajian linguistik yang mempelajari, membahas, membicarakan dan menganalisis bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat-alat ucap manusia (artikulator). Lebih lanjut, Abdul Chaer (2003:102 dalam http://uniisna.wordpress.com) mengatakan, secara etimologi istilah “fonologi” ini dibentuk dari kata fon yang berarti “bunyi” dan logi  yang berarti ilmu. Jadi, secara sederhana dapat dikatakan bahwa fonologi merupakan ilmu yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa pada umumnya. Objek kajiannya adalah fon atau bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia (artikulator).
Muhammad (2011:126) menyatakan bahwa fonologi adalah cabang ilmu linguistik yang mengkaji atau menelaah cara-cara mengatur dan menggunakan bunyi bahasa alamiah.
Fonologi menguraikan pola-pola bunyi dan jenis bunyi yang dihasilkan oleh penutur bahasa yang dipelajari. Selain itu, fonologi menelaah urutan-urutan fonem suatu bahasa.
Verhaar (1984:36 dalam http://uniisna.wordpress.com) mengatakan bahwa fonologi  merupakan bidang khusus dalam linguistik yang mengamati bunyi-bunyi suatu bahasa tertentu sesuai dengan  fungsinya untuk membedakan makna leksikal dalam suatu bahasa. Bunyi bahasa yang dimaksud oleh Verhaar di sini adalah bunyi-bunyi bahasa yang berfungsi membedakan makna kata.
Fonologi adalah salah satu cabang ilmu bahasa (linguistik) yang mengkaji dan menganalisis bunyi ujaran pada suatu bahasa dengan cara mempelajari bagaimana bunyi ujaran itu dihasilkan oleh alat ucap manusia (artikulator), bagaimana bunyi ujaran itu sebagai getaran udara, bagaimana bunyi ujaran itu diterima oleh telinga manusia, dan bagaimana bunyi ujaran itu dalam fungsinya sebagai pembeda makna.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, morfofonemik adalah telaah tentang perubahan-perubahan fonem yang terjadi sebagai akibat pertemuan (hubungan) morfem dengan morfem lain.
Morfofonemik (disebut juga morfonologi atau morfofonologi) adalah kajian mengenai terjadinya perubahan bunyi atau perubahan fonem sebagai akibat dari adanya proses morfologi, baik proses afiksasi, proses reduplikasi, maupun proses komposisi (Chaer, 2008:43). Umpamanya, perubahan bentuk dalam proses afiksasi yakni pelesapan fonem yang terjadi pada prefiks ber- pada kata dasar ‘renang’ yang secara ortografis berubah dan diterima oleh masyarakat penutur Bahasa Indonesia sebagai ‘berenang’ dan bukan ‘berrenang’. Bunyi [r] yang ada pada prefiks ber- dilesapkan pada saat terjadi perubahan morfologi. Hal yang sama juga terjadi pada kata dasar ‘sejarah’ dengan sufiks asing ‘-wan’ yang melesapkan fonem /h/ pada kata dasar ‘sejarah’ yang secara ortografis berubah dan diterima menjadi ‘sejarawan’ dan bukan ‘sejarahwan’.
Selain pelesapan, dalam proses morfologi (morfofonemik) juga dikenal dengan beberapa jenis perubahan, yakni adanya pemunculan fonem, peluluhan fonem, perubahan fonem, dan pergeseran fonem.
Menurut Chaer (2008:44), pelesapan fonem adalah hilangnya fonem dalam suatu proses morfologi.
Dalam bahasa daerah Ende, pun terjadi proses morfologi (morfofonemik). Sebagai contoh, kata ‘tea’ yang artinya ‘matang’, mengalami proses pemunculan fonem, antara bunyi vokal [a] dan bunyi vokal [e], yakni munculnya bunyi glotal atau hamzah. Lumrahnya, penulisan bunyi glotal atau hamzah ini dalam fonologi dilambangkan dengan tanda baca tanya yang ditulis miring (?). Pemunculan fonem ini lazimnya terdapat pada kata yang memiliki bunyi vokal rangkap seperti /aa, ae, ai, au, ao, ea, ee, ei, eu, eo, ia, ie, ii, io, iu, oa, oe, oi, oo, ua, ue, ui, uu, uo/.
Adapun proses pelesapan fonem dalam Bahasa Ende (BE) tidak seperti yang terdapat dalam bahasa Indonesia. Lesapnya fonem dalam BE tidak terdapat pada prefiks (awalan), melainkan pada kata atau morfem itu sendiri yang secara konvensional, baik disengaja atau tidak disengaja, digunakan oleh penutur BE. Kata ‘kai’ yang artinya dia dilesapkan menjadi ‘ki’ atau kata ‘abe’ yang artinya mereka dilesapkan menjadi ‘be’ dan beberapa kata lainnya.

















BAB III
METODE PENELITIAN

3.1  Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian bisa diartikan: (a) apakah suatu penelitian itu kuantitatif atau kualitatif (Nunan, 1992:4 dalam Marietta, 2011:12) atau (b) apakah penelitian itu penelitian ruangan atau lapangan (Blaxter, Hughes dan Thight, 2001:91-97 dalam Marietta, 2011:12).
Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian tentang Variasi Fonologis Morfem Bahasa Ende menggunakan pendekatan kualitatif deskripif dimana data yang diambil berupa kata-kata, yakni tuturan atau dialek yang biasa digunakan oleh penutur asli Ende dalam kesehariannya untuk berkomunikasi.
Deskriptif adalah sifat data penelitian kualitatif. Wujud datanya berupa deskripsi objek penelitian. Dengan kata lain, wujud data penelitian kualitatif adalah kata-kata, gambar, dan angka-angka yang tidak dihasilkan melalui pengolahan statistika. Data yang deskriptif ini bisa dihasilkan dari transkrip (hasil) wawancara, catatan lapangan melalui pengamatan, foto-foto, video-tape, dokumen pribadi, catatan memo,  dan dokumen resmi yang lain.
Bogdan dan Taylor (1975:5) dalam Moleong (2010:4) yang diadopsi oleh Muhammad, (2011:30) mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Selanjutnya, Berg (2007:3) yang diadopsi oleh Djam’an (2010:12) dalam Muhammad (2011:30) menyatakan bahwa penelitian kualitatif, “Refers to the meaning, concept, definitions, characteristic, metaphors, symbols, and descriptions of thing”. Menurut definisi ini, penelitian kualitatif ditekankan pada deskripsi objek yang diteliti.
Muhammad (2010:23) dalam Muhammad (2011:31) menyebutkan bahwa salah satu fenomena yang dapat menjadi objek penelitian kualitatif adalah peristiwa komunikasi atau berbahasa karena peristiwa ini melibatkan tuturan, makna semantik tutur, orang yang bertutur, maksud yang bertutur, situasi tutur, peristiwa tutur, tindak tutur, dan latar tuturan.

3.2  Data dan Sumber Data
3.2.1 Data
Data merupakan bahan untuk menjawab pertanyaan, memecahkan permasalahan atau membuktikan hipotesis penelitian (Marietta, 2011:15). Sedangkan, Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) data adalah keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian (analisis atau kesimpulan). Dan, Muhammad (2011:168) berpendapat bahwa data merupakan perangkat untuk menjawab soal-soal penelitian.
Mengenai bentuk data, Nunan (1992:231) dan Blaxter, Hughes dan Thight (2001:296-297) dalam Marietta (2011:16) menyatakan bahwa data dapat berupa angka, yang disebut data kuantitatif, dan yang bukan angka, yang disebut data kualitatif.
Data yang terdapat dalam penelitian ini adalah data kualitatif, yakni data yang bukan angka atau berupa kata-kata verbal (lisan). Data kata-kata verbal (lisan) disini maksudnya adalah tuturan, ujaran, perkataan, atau pembicaraan yang dilakukan oleh penutur bahasa Ende sebagai data tunggal penelitian. Data lisan merupakan data yang sifatnya benar-benar nyata dan asli.

3.2.2 Sumber Data
Sumber data terkait dengan dari siapa, apa, dan mana informasi mengenai fokus penelitian diperoleh. Dengan kata lain, sumber data berkaitan dengan lokasi dan satuan penelitian atau observation unit. Jadi, sumber merupakan asal-usul dari apa, siapa, dan mana data diperoleh. Data dapat juga dihasilkan karena menggunakan metode penyediaan data, seperti wawancara, pengamatan (observasi), itrospeksi, dan dokumen (Muhammad, 2011:167).
Sumber data merupakan asal data yang diperoleh dalam penelitian. Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber lisan, yakni diambil dari percakapan atau pembicaraan dari penutur asli bahasa Ende yang menggunakan bahasanya untuk berkomunikasi sehari-hari selain bahasa kedua, bahasa Indonesia. Sumber data didapatkan dengan cara peneliti melibatkan diri dengan masyarakat penutur yakni dengan bercakap-cakap dan mendengarkan setiap percakapan yang dilakukan.
Pengambilan sumber data lisan bertujuan agar memudahkan peneliti mendapatkan data yang benar-benar asli dari penutur bahasa Ende sendiri karena data lisan merupakan hal pokok yang dikaji dalam penelitian ini. Setiap kata yang diucapkan–kata-kata yang menurut peneliti memiliki variasi pada struktur fonologis akan dicatat atau direkam sebagai sumber data penelitian.
Menurut Moleong (2010:396), yang dikutip oleh Muhammad (2011:170) menyarankan agar seorang peneliti memeriksa keabsahan data secara komperhensif. Keabsahan data mencakup metode pengumpulan data yang diterapkan di lokasi penelitian, seperti perpanjangan keikutsertaan dalam melakukan penelitian.
Sebelum turun ke lapangan untuk mendapatkan sumber data tersebut terlebih dahulu peneliti membuat daftar kata-kata yang sesuai dengan penelitian sehingga memudahkan peneliti mendapatkan data dan mempercepat waktu proses penelitian.

3.3  Metode Pengumpulan Data
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) metode adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.
Dalam penelitian kualitatif, ada tiga cara atau metode untuk mengumpulkan data. Pertama adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan mengamati apa-apa yang diteliti atau metode pengamatan atau metode simak. Data yang dihasilkan dengan menggunakan metode ini berupa transkrip, catatan lapangan, narasi, dan deskripsi. Kedua adalah metode wawancara atau metode cakap atau interviewing method. Data yang dihasilkan oleh metode ini dengan menerapkan teknik-teknik tertentu adalah transkrip wawancara, rekaman, atau catatan lapangan. Ketiga adalah dengan menggunakan metode dokumen dimana dokumen menjadi satuan penelitian yang di dalamnya terdapat satuan analisis.
Untuk memperoleh data yang memadai, dalam penelitian bahasa diterapkan beberapa metode pengumpulan data, yakni (1) metode simak (pengamatan/observasi); (2) metode cakap (wawancara), dan (3) metode introspeksi (Muhammad, 2011:194).
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode simak dan metode cakap. Metode simak (pengamatan/observasi) adalah metode yang digunakan untuk memperoleh data dengan melakukan penyimakan terhadap penggunaan bahasa (Muhammad, 2011:194). Metode simak digunakan untuk menyimak penggunaan bahasa yang diwujudkan dalam bentuk teknik Simak Bebas Libat Cakap.
Sedangkan metode cakap (wawancara) adalah metode pengumpulan data dengan melakukan percakapan dengan para informan (Muhammad, 2011:195). Teknik dasar yang digunakan dalam metode ini adalah teknik pancing yang diikuti dengan teknik lanjutan yakni teknik cakap semuka. Pada pelaksanaan teknik cakap semuka, peneliti langsung melakukan percakapan dengan pengguna bahasa sebagai informan.
Peneliti juga menggunakan kata-kata yang telah didaftarkan sebelumnya pada beberapa lembar kertas untuk ditanyakan kepada penutur bahasa Ende mengenai penggunaannya pada komunikasi sehari-hari, baik tempat maupun situasi digunakannya kata-kata tersebut. Hal ini dilakukan mengingat penggunaan kata-kata tersebut pada tempat dan situasi di dalam kalimat yang tidak serta merta ada dalam pembicaraan atau percakapan saat penelitian dilakukan. Selain itu juga mengingat waktu penelitian yang terbatas sehingga dibuatkan daftar kata untuk memudahkan dan mempercepat jalannya penelitian.

3.4  Teknik Pengumpulan Data
Sejalan dengan metode yang disebutkan di atas, yakni metode simak dan metode cakap, maka teknik yang digunakan adalah teknik Simak Libat Cakap. Pada teknik ini, peneliti melakukan penyadapan dengan cara berpartisipasi sambil menyimak, berpartisipasi dalam pembicaraan, dan menyimak para informan dalam hal ini, peneliti terlibat langsung dalam dialog (Mahsun, 2007:246 dalam Muhammad, 2011:194).
Selain itu, teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sadap yang merupakan dasar dari metode simak (pengamatan/observasi). Teknik sadap disebut teknik dasar dalam metode simak karena pada hakikatnya penyimakan diwujudkan dengan penyadapan, dalam arti penelitian dalam upaya mendapatkan data dilakukan dengan menyadap penggunaan bahasa seseorang atau beberapa orang yang menjadi informan (Mahsun, 2007:242 dalam Muhammad, 2011:194).

3.5  Metode dan Teknik Analisis Data
Metode adalah cara yang harus dilaksanakan; teknik adalah cara melaksanakan metode (Sudaryanto, 1993:9).
Menurut Patton (1988) dalam Kaelan (2005:209), yang dikutip oleh Muhammad (2009:221) menyatakan bahwa analisis data merupakan suatu proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian besar.
Subroto (2007:59 dalam Muhammad 2011:222) menyatakan bahwa menganalisis berarti mengurai atau memilah-bedakan unsur-unsur yang membentuk satuan lingual atau mengurai suatu satuan lingual ke dalam komponen-komponennya.
Muhammad (2011:222) dengan menyimpulkan pendapat dari Subroto (2007) dan Sudaryanto (1993) berpendapat bahwa analisis data merupakan suatu aktivitas mengurai atau memburaikan data untuk melahirkan kaidah atau kaidah-kaidah yang berkenaan dengan fokus penelitian dengan menggunakan metode, teknik, dan alat.
Tahap analisis data merupakan upaya sang peneliti menangani langsung masalah yang terkandung pada data (Sudaryanto, 1993:6).
Adapun tahap menganalisis data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode dan teknik yang sesuai agar data yang dianalisis kebenarannya dapat teruji dan valid.
3.5.1 Metode Analisis Data
Metode analisis data adalah cara yang digunakan peneliti dalam menganalisis setiap data yang diperoleh dari lapangan atau tempat dilakukannya penelitian dengan berdasarkan pada teori yang sesuai dengan judul penelitian.
Muhammad (2011:233), dengan mengutip kalimat atau berdasar pada pengertian metode dalam kamus Oxford (2005) menyimpulkan bahwa metode analisis data adalah cara menguraikan dan mengelompokkan satuan lingual sesuai dengan pola-pola, tema-tema, kategori-kategori, kaidah-kaidah, dan masalah-masalah penelitian.
Adapun metode yang digunakan dalam menganalisis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode padan atau identity method dan metode agih atau distributional method.
Metode padan merupakan cara menganalisis data untuk menjawab masalah yang diteliti dengan alat penentu berasal dari luar bahasa. Artinya, aspek luar bahasalah yang menentukan satuan lingual sasaran penelitian. Metode padan atau identity method merupakan metode analisis data yang menggunakan alat penentu di luar unsur bahasa (Djajasudarma, 1993:58 dalam Muhammad, 2011:196).
Metode padan, alat penentunya di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan (Sudaryanto, 1993:13).
Sedangkan, metode distribusional menggunakan alat penentu dasar bahasa. Metode distribusional memakai alat penentu di dalam bahasa yang diteliti (Muhammad, 2011:196).
3.5.2 Teknik Analisis Data
Analisis data adalah kegiatan menguraikan, menjabarkan, menyelidiki, memecahkan atau menganalisis permasalahan dalam hal ini data penelitian yang telah dikumpulkan dengan menggunakan metode dan teknik tertentu serta berlandaskan pada teori yang sesuai.
Teknik yang digunakan dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah teknik Pilah Unsur Penentu (PUP) atau dividing-key-factors technique. Teknik Pilah Unsur Penentu yang selanjutnya disebut PUP dalam penelitian ini merupakan teknik dasar untuk melaksanakan metode padan. Alat teknik ini adalah kemampuan peneliti dalam memilah data. kemampuan yang dimiliki peneliti bersifat mental, mengandalkan intuisi, dan menggunakan pengetahuan teoritis.
Langkah-langkah yang akan dilakukan dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.         Mengumpulkan dan mengorganisasikan data yang telah diperoleh.
b.         Membaca data secara keseluruhan dan membuat catatan sehingga memperjelas maksud dari data yang disajikan.
c.         Mengelompokkan setiap data (contoh kata-kata verbal yang mengalami variasi fonologis) yang ada ke dalam masing-masing bagian sehingga mempermudah analisis.
d.        Memberikan penjelasan terhadap setiap data yang telah dikelompokkan tersebut serta memberikan penjelasan secara naratif mengenai fenomena yang diteliti.

3.6  Teknik Penyajian Data
Setelah data dikumpulkan dan dianalisis, selanjutnya data tersebut disajikan. Penyajian data dilakukan dengan dua teknik, yakni teknik formal dan teknik informal.
Menurut Sudaryanto (1993:31) dalam Muhammad (2011:172) menyatakan bahwa ada dua cara penyajian data, yaitu dengan metode formal dan metode informal. Kaidah-kaidah yang diperoleh melalui analisis itu disajikan dengan menggunakan bahasa biasa, lambang, dan tanda.
Menurut Mahsun (2007:116 dalam Muhammad, 2011:196) hasil penelitian data akan disajikan dengan dua cara, yaitu dengan menggunakan metode formal dan metode informal. Metode formal adalah metode penyajian hasil analisis data menggunakan perumusan dengan tanda dan lambang-lambang. Tanda yang dimaksud antara lain: tanda kurun biasa ((...)), tanda kurung siku ([...]), tanda petik satu (‘...’), tanda petik dua (“...”), dan tanda baca lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar