Senin, 28 Januari 2013

Pembahasan - Variasi Fonologis Bahasa Ende


BAB IV
TEMUAN DAN PEMBAHASAN

4.1  Temuan
Temuan yang dikumpulkan sebagai data dalam penelitian ini yakni variasi fonologis pada fonem vokal, konsonan, dan proses morfofonemik. Selanjutnya dijelaskan sebagai berikut:
4.1.1 Variasi Fonologis pada Fonem Vokal
Perbedaan bunyi yang menyebabkan adanya variasi fonologis pada fonem vokal dalam Bahasa Ende, antara lain:
1.    Variasi Bunyi /e/ dan /u/
Variasi bunyi vokal /e/ pada kata rhase dan bunyi vokal /u/ pada kata rhasu sama-sama memiliki makna alat kelamin atau kemaluan pada pria (penis, zakar),  dan  digunakan untuk makian.
Contoh: (1) Kai      ro     re      rhase     ki.
 Dia    sakit di      penis      dia
 Dia sakit di penisnya.

(2)  Ana    rhasu     ku,    iwa     ngaza   mai        ndia   wazi.
 Anak  penis  kamu,  tidak     bisa     datang   sini    lagi.s
 ‘Anak penis’ kau, jangan datang kesini lagi!

Pernyataan yang terdapat dalam kalimat (1) adalah menujukkan makna kata rhase yang sebenarnya yakni penis. Pernyataan dalam kalimat (2) menunjukkan makna kata rhasu yang digunakan untuk memaki atau makian karena marah atau kesal terhadap kelakuan yang kurang baik dari seseorang.
Kedua fonem tersebut memiliki perbedaan yang sangat jauh. Fonem /e/ adalah fonem tengah meninggi-depan-tak bundar, sedangkan fonem /u/ adalah fonem atas meninggi-belakang-bundar.
Sebenarnya dalam BE hanya ada kata rhase. Munculnya fonem /u/ yang membentuk kata rhasu disebabkan karena masuknya penutur lain ke dalam wilayah Desa Borokanda yang dalam kesehariannya lebih terbiasa menuturkan kata rhasu atau lasu daripada kata rhase seperti wilayah Nio I yang merupakan pendatang yang berasal dari Bajawa.
2.    Variasi Bunyi /a/ dan /u/
Variasi bunyi vokal /a/ pada kata mora dan bunyi vokal /u/ pada kata moru sama-sama memiliki makna jatuh/berjatuhan, berguguran. Kata mora digunakan dalam kalimat untuk menyebutkan benda yakni daun yang berjatuhan atau berguguran dari pohonnya. Sedangkan, kata moru digunakan dalam kalimat untuk menjelaskan daun dan rambut atau bulu pada tubuh manusia yang berjatuhan atau berguguran. Kata moru juga digunakan untuk istilah rambut “jatuh” atau rambut lurus terurai.
Contoh: (1) Wurha   ngere   na  wunu  pupu   mora  mbǝja   ka.
 Bulan   seperti  ini  daun  gamal   jatuh   habis   sudah.
 Musim seperti ini daun gamal berguguran.

(2) Kere   nggǝna   rhǝngi   tana   na      fu        jo   moru  mbǝja.
 Sejak    kena    minyak tanah   itu rambut saya  jatuh     habis.
 Sejak terkena minyak tanah rambutku jadi jatuh/rontok.

(3) Ana    na   na      fu        ki   moru        ngera        rhimba.
 Anak  itu  itu   rambut  dia   jatuh   berserakan     terus.
 Anak itu rambutnya jatuh lurus terurai.
Kata mora yang ditunjukkan dalam kalimat (1) memiliki makna yang sama seperti pada kalimat (2) dan (3) yakni jatuh. Namun, dalam kalimat (3) jatuh yang dimaknai tersebut merupakan wujud yang diistilahkan untuk rambut yang lurus terurai. Penutur Ende yang berada di Desa Borokanda mengistilahkan rambut yang lurus adalah rambut ‘jatuh’ terurai.
Pada kedua kata di atas terdapat dua fonem berbeda yakni /u/ dan /a/ yang dilengkapi dengan fonem /m, o, dan r/  yang membentuk kata mora dan moru yang juga memiliki makna dan penggunaan yang sama dalam kalimat. Sesungguhnya, fonem /u/ dan /a/ merupakan dua fonem yang berbeda pada proses pembuatannya. Dilihat pada posisi lidah, mulut (bibir), fonem /u/ adalah fonem atas meninggi-belakang-bundar. Sedangkan, fonem /a/ adalah fonem bawah merendah-tengah-bundar. Namun, keduanya memiliki kesamaan yakni merupakan fonem yang ketika diproduksi atau dibuat letak bagian lidahnya terdapat di belakang mulut dan merupakan bunyi yang diproduksi dengan bentuk mulut yang bundar. Jadi, fonem /u/ adalah [+vokalik], [+belakang], [+bundar] dan fonem /a/ adalah [+vokalik], [+bundar].
3.    Variasi Bunyi /u/ dan /a/
Variasi bunyi vokal /u/ pada kata wǝdhu dan bunyi vokal /a/ pada kata wǝdha yang memiliki makna yang sama yakni /cabut/ atau /mencabut/. Kata wǝdha digunakan dalam kalimat untuk menjelaskan tindakan cabut atau mencabut sesuatu secara kasar atau mencabut sesuatu yang keras sehingga harus dipaksakan. Sedangkan kata wǝdhu digunakan dalam kalimat selain untuk menjelaskan tindakan cabut atau mencabut sesuatu yang kuat juga digunakan untuk tindakan yang dilakukan secara perlahan-lahan dan tidak menggunakan tenaga penuh pada sesuatu atau benda yang halus, lembek, lunak atau mudah dicabut.
Contoh:  (1)   Ma’e  wǝdha kabe na!
Jangan cabut kabel itu!
Jangan dicabut kabel itu!

(2)  Kau wǝdhu mbǝne pa nore we.
Kau/kamu cabut rumput di sana saja.
Kamu cabut rumput di sebelah sana saja.
(3) Kuda kada: -- --
Makna: berdesak-desakan, bersesak-sesakan.
Contoh: miu        ma’e     mbi        kuda kada        pa na na.
Kalian jangan terlalu bersesak-sesakan di sini ini.
Kalian jangan bersesak-sesakan di sini.
Kata wǝdha dan wǝdhu yang terdapat dalam kalimat (1) dan (2) memiliki makna yang sama yakni cabut atau mencabut. Namun di sisi lain, penggunaan kata wǝdhu dalam kalimat oleh masyarakat Desa Borokanda dan penutur BE umumnya dirasakan lebih kasar dibanding kata wǝdha. Sedangkan, pada kalimat (3) kata kuda kada merupakan sebuah istilah yang ditujukan kepada seseorang atau beberapa orang yang melakukan tindakan bersesak-sesakan atau berdesak-desakan. Kata kuda dan kada sendiri dalam BE tidak memiliki arti untuk BI.
Pada kedua kata di atas terdapat dua fonem berbeda yakni /u/ dan /a/ yang melengkapi bunyi /m, o, dan r/ sehingga membentuk kata [mora] dan [moru] yang juga memiliki makna dan penggunaan yang sama dalam kalimat. Sesungguhnya, fonem /u/ dan /a/ merupakan dua fonem yang berbeda pada proses pembuatannya. Dilihat pada posisi lidah, mulut (bibir), fonem /u/ adalah fonem atas meninggi-belakang-bundar. Sedangkan, fonem /a/ adalah fonem bawah merendah-tengah-bundar. Namun, keduanya merupakan fonem yang ketika diproduksi atau dibuat letak bagian lidahnya terdapat di belakang mulut. Jadi, fonem /a/ adalah [+vokalik], [+bundar] sedangkan fonem /u/ adalah [+vokalik], [+belakang], [+bundar].
4.    Variasi Bunyi /a/ dan /e/
Variasi bunyi vokal /a/ pada kata kǝta dan bunyi vokal /e/ pada kata kǝte yang memiliki makna yang sama yakni dingin.
Contoh: (1) kopi    na    kǝta     pǝka
Kopi   ini  dingin   sudah.
Kopi ini sudah dingin.
(2) re    Moni    na    kǝte        -e
Di    Moni    itu  dingin   sangat.
Di Moni sangat dingin.
Pada kalimat (1) kata kǝta yang bermakna dingin digunakan dalam kalimat pada saat perubahan suhu dari panas menjadi dingin yang dinyatakan pada kata kopi. Sedangkan, kata kǝte digunakan dalam kalimat pada saat suhu yang telah dingin atau bukan hasil perubahan alam dari panas menjadi dingin. Dengan kata lain, kata kǝte tidak bisa digunakan dalam kalimat untuk suatu perubahan suhu. Begitu pun kata kǝta yang tidak bisa diucapkan ketika seseorang merasakan suhu dingin di tubuhnya pada saat berada pada ketinggian tertentu seperti di daerah pegunungan atau di daerah kutub.
Masuknya fonem /e/ dan /a/ melengkapi fonem /k, e, dan t/ menjadi kǝte dan kǝta menjadi pemicu perbedaan fonologis dalam kata tersebut. Fonem /e/ diproduksi dengan posisi lidah adalah tengah meninggi-depan-tak bundar sedangkan fonem /a/ diproduksi dengan posisi lidah adalah bawah merendah-tengah-bundar.
Namun, di sisi lain keduanya memiliki persamaan. Persamaan tersebut dapat dilihat pada fitur distingtif vokal. Fonem /e/ memiliki  fitur  distingtif  [+vokalik],  [-tinggi],  [-belakang], [-bundar], [-tegang] sedangkan fonem /a/ memiliki fitur distingtif [+vokalik], [-tinggi], [+belakang], [-bundar], [-tegang]. Jadi, persamaannya adalah keduanya bukan merupakan vokal tinggi (posisi lidah), tidak bundar (bentuk mulut saat dituturkan), dan tidak tegang (keadaan urat untuk mengeluarkan bunyi).
Dalam bahasa-bahasa tertentu kedua bunyi tersebut dapat disatukan menjadi bunyi /e/ pepet, yakni jika diucapkan bukan bunyi /a/ dan bukan pula bunyi /e/ tetapi di antaranya. Secara ortografis, dituliskan dengan lambang [ǝ].
5.    Variasi Bunyi /i/ dan /a/
Kata dalam Bahasa Ende yang menyebabkan munculnya variasi bunyi /i/ dan /a/ adalah sebagai berikut.

(1) Pirho parho: ...... jilat
Makna: makan tidak senonoh (urak-urakan), ikut berbicara ketika orang lain sedang berbicara, kurang ajar.
Contoh:  ata ngestei kau ma’e mbi pirho parho e ko.
Orang bicara kamu jangan terlalu ikut berbicara.
Kalau orang sedang berbicara, kamu jangan ikut berbicara.

(2)  Iza aza: pelita ......
 Makna: melihat-lihat, menoleh ke kiri dan kanan, awas (waspada).
Contoh:  Iza aza tau apa pa na na?
Melihat buat apa di sini ini?
Apa yang kamu lihat di sini?

(3) Tibho tabho: -- tumpah
Makna: tertumpah ruah, menumpahkan.
Contoh: mbana morho-morho, jaga ae tibho tabho mbeja so.
Jalan baik-baik, jaga/awas air tumpah habis nanti.
Jalannya hati-hati, awas airnya tumpah.

(4) rhima rhama: tangan cepat
Makna: suka memukul, panjang tangan (suka mencuri).
Contoh:  ma’e imu ki, kai rhima rhama ka re’e.
Jangan teman dia, dia tangan cepat terlalu jelek/buruk

(5) Mio mao: ...... hantam
Makna: bersesak–sesakan, berdesak–desakan, menghalang-halangi (jalan, pandangan), Kelayapan.
Contoh: nukombe na kau mbana mio mao pa’amba?
Tadi malam itu kamu pergi kelayapan dimana?
Semalam/tadi malam kamu kelayapan dimana?
(6) Nimo namo: -- --
Makna: ikut campur.
Contoh: ata ngǝstei na, kau ma’e mbi nimo namo sama na.
Orang bicara itu, kamu jangan terlalu ikut campur sama.
Kalau orang sedang berbicara, kamu jangan ikut campur.
(7) Inga anga: menoleh ....
Makna: melihat (awas), menoleh ke kiri dan kanan.

Contoh: Kau inga anga tau apa na? wi naka ri’a?
Kamu toleh buat apa itu? Akan curi baik/mungkin?
Kamu lihat apa itu? Mau mencuri, ya?

Dari data di atas, fonem vokal /i/ dan /a/ adalah pemicu munculnya variasi fonologis. Kedua fonem tersebut merupakan fonem yang berbeda. Perbedaan keduanya terletak pada proses produksi atau bagaimana kedua bunyi itu dibuat. Dalam proses produksinya, fonem /i/ merupakan fonem atas meninggi-depan (muka)-tak bundar (melebar). Sedangkan fonem /a/ merupakan fonem bawah merendah-tengah (pusat)-bundar.
Akan tetapi, dalam ilmu fonologi dikenal dengan fitur distingtif atau ciri pembeda atau ciri fonetis yang dapat menjadi alat ukur perbedaan maupun persamaan antarfonem. Dan, adapun persamaan dari fonem /i/ dan /a/ dilihat dari fitur distingtifnya adalah sama-sama bundar, yakni bentuk mulut ketika menghasilkan bunyi tersebut.
Dalam daftar klasifikasi vokoid, fonem vokal /a/, sesuai dengan posisi lidah, diletakkan pada tiap tempat, baik depan (muka), tengah (pusat), maupun belakang sejajar dengan fonem vokal lain seperti /i/, /u/, /e/, dan /o/. Selain itu, dalam produksinya, bentuk bibir untuk menghasilkan bunyi /a/, selain bulat bisa juga melebar.
Dalam hal vokal, fonem /a/, /i/, dan /u/ membentuk apa yang dinamakan Sistem Vokal Minimal (Minimal Vocalic System). Dari tiga bunyi tersebut fonem vokal /a/-lah yang paling mudah diucapkan. Oleh karena sifat kodrati tersebut, fonem /a/ selalu sejajar atau berdampingan dengan fonem vokal lain.

4.1.2 Variasi Fonologis pada Fonem Konsonan
Perubahan bunyi yang menyebabkan adanya variasi fonologis pada fonem konsonan dalam Bahasa Ende, antara lain:
1.         Variasi Bunyi /k/ dan /w/
Variasi bunyi konsonan /k/ pada kata kǝdhu dan bunyi konsonan /w/ pada kata wǝdhu yang memiliki makna yang sama yakni cabut atau mencabut. Kata kǝdhu digunakan dalam kalimat untuk tindakan mencabut rumput dan pohon yang berukuran kecil yang bisa dicabut dengan tangan manusia dan tidak membutuhkan tenaga penuh. Sedangkan, kata wǝdhu digunakan dalam kalimat selain untuk tindakan mencabut sesuatu yang lunak, halus dan tidak membutuhkan tenaga yang besar juga digunakan untuk tindakan mencabut sesuatu yang keras secara kasar. Lazimnya digunakan untuk menyebutkan tindakan mencabut rumput, rambut atau bulu dan diistilahkan untuk umpan yang disuwir ikan pada saat memancing.
Contoh: (1) Kai kǝdhu mbǝne re rhurhu.
 Dia cabut rumput di halaman belakang.
 Dia sedang mencabut rumput di halaman belakang.

(2) Lema wǝdhu uwa ko’o baba ki re padha.
Lema cabut uban punya bapak dia di balai-balai.
Lema sedang mencabut uban bapaknya di balai-balai.
(3) esa si! pǝni ika wǝdhu pǝka na.
Tarik sudah! Ikan cabut sudah itu.
Tarik! Umpanmu sudah dicabut ikan.
Kata kǝdhu pada kalimat (1) memiliki makna mencabut atau melakukan tindakan cabut yang dalam kalimat digunakan untuk tindakan mencabut hanya untuk benda berupa rumput dan sejenisnya. Kata wǝdhu pada kalimat (2) memiliki memiliki makna yang sama dengan kata kǝdhu, namun kata wǝdhu tidak bisa digunakan dalam kalimat untuk tindakan mencabut benda seperti rumput dan semacamnya akan tetapi digunakan untuk menyatakan tindakan mencabut benda seperti bulu atau rambut dan semacamnya. Sedangkan, pada kalimat (3) makna kata cabut atau mencabut yang dalam BE disebut wǝdhu disamakan dengan makna mencabik-cabik atau menyuwir kecil-kecil karena dalam BE tidak ada kata untuk menyatakan tindakan mencabik atau menyuwir.
Jika dilihat struktur fonologis pada dua kata tersebut, bunyi konsonan /k/ dan /w/ merupakan dua fonem yang berbeda, baik tempat artikulasi maupun proses cara arikulasinya. Fonem /k/ merupakan fonem dorsovelar-hambat (letup) sedangkan fonem /w/ merupakan fonem bilabial-semi vokal. Namun, keduanya memiliki derajat sonoritas yang sama yakni sama-sama tinggi. Hal ini dikarenakan lebih dekat dengan nukelus (sifat bunyi yang kadar fonetiknya didominasi oleh ciri-ciri yang berkaitan dengan vois). Sebagai contoh, dalam Bahasa Indonesia kita menemukan kata seperti, kwalitas, kwitansi, kwartit, kwasiorkor, dan sebagainya. Persamaan lainnya dari kedua fonem tersebut dilihat dari fitur distingtifnya yakni keduanya adalah bukan merupakan fonem straiden yakni bunyi yang dibuat dengan desahan suara dan bukan fonem kontinuan yakni bunyi yang dibuat dengan aliran udaranya bisa terus berlanjut. Jadi, bunyi /k/ adalah [-straiden] [-kontinuan] dan bunyi /w/ adalah [-straiden] [-kontinuan].
2.         Variasi Bunyi /n/ dan /s/
Variasi bunyi konsonan /n/ pada kata nasi dan bunyi konsonan /s/ pada kata sasi yang memiliki makna yang sama yakni garuk atau menggaruk. Dalam kalimat, kata nasi digunakan untuk tindakan menggaruk bagian tubuh yang terasa gatal. Sedangkan, kata sasi digunakan dalam kalimat untuk tindakan menggaruk bagian tubuh yang terasa gatal yang sangat berlebihan sehingga menggaruk pun dilakukan dengan berlebihan sehingga muncul luka pada bagian tubuh yang digaruk.
Contoh: (1) Kau nasi toko rhonggo jao sǝrhama ro.
Kamu garuk tulang punggung saya cepat.
Tolong kamu garuk punggung saya sebentar.
(2) Urhu kau na ma’e mbi sasi, jaga orho nǝka.
 Kepala kamu jangan terlalu garuk, awas lama luka.
 Kepalamu Jangan terlalu digaruk, nanti luka.
Fonem /s/ dan /n/ merupakan dua fonem yang sangat berbeda. Dilihat dari proses menghasilkan bunyi bahasa, fonem /n/ merupakan fonem apikoalveolar–nasal, sedangkan fonem /s/ merupakan fonem laminopalatal–frikatif. Dalam sumber lain menyatakan bahwa fonem /n/ merupakan fonem dental–nasal yakni ujung lidah menyentuh pangkal gigi atas dan udara dikeluarkan melalui hidung sedangkan fonem /s/ merupakan fonem dental–frikatif yakni pertemuan gigi atas dan bawah serta lidah dinaikkan hingga menyentuh langit-langit keras dan udara dibiarkan keluar melalui celah di antara kedua gigi yang bertemu.
Dilihat dari fitur distingtif konsonan, fonem /s/ dan /n/ adalah koronal (coronal) yakni bunyi yang dibuat di bagian tengah atas mulut. Jadi, fonem /s/ adalah [+koronal] dan fonem /n/ adalah [+koronal].
Dalam BI terdapat gugus konsonan. Salah satu gugus konsonan yang sering bertemu adalah gugus konsonan /ns/. Gugus konsonan /ns/ ini lazimnya berada di akhir sebuah kata. Sebagai contoh, dalam BI kita mengenal ada kata seperti ons, ambulans, dan mens.
3.         Variasi bunyi /p/ dan /d/
Variasi bunyi konsonan /p/ pada kata pua dan bunyi konsonan /d/ pada kata dua yang memiliki makna yang sama yaitu pukul atau memukul. Kata pua digunakan dalam kalimat untuk tindakan memukul sesuatu dengan menggunakan benda keras seperti kayu, balok kayu, bilah bambu. Sedangkan, kata dua digunakan dalam kalimat untuk tindakan memukul sesuatu dengan selain menggunakan kayu dan bilah bambu juga dapat digunakan untuk tindakan memukul dengan menggunakan tangan berupa tamparan.
Contoh: (1) Kalo sodo tarho pǝka na, pua rhimba si.
Kalau jolok tidak bisa sudah, pukul terus sudah.
Kalau sudah tidak bisa dijolok, dipukul saja.

(2) Jogha mbǝraka na, jo dua rhimba si ki.
 Nakal terlalu, saya pukul terus dia.
 Karena terlalu nakal, saya pukul saja dia.
Pada kalimat (1), makna kata pua menyatakan tindakan memukul yang dilakukan saat menjolok buah dan sebagainya. Oleh karena buah dan sebagainya tersebut yang dijolok tidak terlepas atau terjatuh dalam kondisi tertentu, pelaku memilih untuk memukul buah atau benda yang dijolokinya. Pada kalimat (2) makna kata dua yang dijelaskan tersebut adalah tindakan berupa menghajar, menampar atau memukul dengan menggunakan tangan ataupun kayu.
Masuknya fonem /p/ dan /d/ melengkapi fonem /u, dan a/ sama sekali sangat tidak lazim. Secara fonologis, proses menghasilkan bunyi /p/ dan bunyi /d/ berbeda. Fonen /p/ merupakan fonem bilabial–hambat (letup) – tak bersuara, sedangkan fonem /d/ merupakan fonem apikoalveolar – hambat (letup)–bersuara. Namun, jika dilihat dalam fitur distingtif, keduanya sama-sama merupakan konsonan anterior yakni bunyi yang dibuat di bagian depan mulut. Jadi, /p/ adalah fonem [+anterior] dan /d/ adalah fonem [+anterior].
4.         Variasi Bunyi /p/ dan /m/
Variasi bunyi konsonan /p/ pada kata pizi dan bunyi konsonan /m/ pada kata mizi yang sama-sama memiliki makna pilih/memilih, menentukan, mengambil. Kata pizi digunakan dalam kalimat untuk menjelaskan tindakan memilih sesuatu atau menentukan (mengambil dan sebagainya) sesuatu yang dianggap sesuai dengan kesukaan atau selera, menunjuk (orang, calon, dan sebagainya) dengan memberikan suaranya seperti memilih calon Bupati, Presiden, Anggota DPR dan sebagainya. Kata mizi digunakan dalam kalimat untuk menjelaskan tindakan memilih, mengambil atau menentukan sesuatu karena telah merasa kekurangan atau memisahkan sesuatu yang baik dari yang tidak baik. Misalnya, mengambil sisa beras atau jagung yang baik dari beras atau jagung yang tidak baik untuk dikonsumsi.
Contoh: (1) –Aki na pirhi ata pawe ne imu mbe'o.
Suami itu pilih yang baik dan teman tahu.
Pilihlah suami yang baik dan pandai berteman.

(2) Ja'o na mirhi rewo ika tu'u ata numai wǝngi wutu ka.
Saya pilih sembarang ikan kering kemarin kapan empat.
Saya ambil ikan kering empat hari yang lalu.
Pada kalimat (1) makna pilih mengacu pada penentuan pilihan yakni memilih suami sesuai dengan harapan pemilih. Pada kalimat (2), makna kata pilih mengacu pada makna memisahkan,  mengambil, atau menentukan sesuatu yang dianggap baik dari yang tidak baik (dalam contoh ini ikan kering yang masih baik untuk dikonsumsi) dari semua ikan kering yang ada.
Perbedaan yang terdapat dalam kedua kata di atas yakni munculnya fonem /p/ dan /m/. Namun, Secara fonologis dalam proses penghasilannya, fonem /p/ dan /m/ berasal dari tempat artikulasi yang sama yakni bilabial (bibir atas dan bibir bawah yang saling bertemu). Akan tetapi, fonem /p/ merupakan fonem hambat–tak bersuara, sedangkan fonem /m/ merupakan fonem nasal (melalui hidung). Dilihat dalam fitur distingtifnya, keduanya sama-sama anterior yakni bunyi yang dibuat di bagian depan mulut. Fonem /p/ dan /m/ adalah sama-sama [+anterior], [-koronal], [-kontinuan]. Jadi, munculnya /p/ dan /m/ secara bergantian dalam sebuah kata merupakan peristiwa yang lazim karena lebih banyak memiliki persamaan dari pada perbedaan pada struktur fonologisnya.
5.         Variasi Bunyi /g/ dan /b/
Variasi bunyi konsonan /g/ pada kata gǝra dan bunyi konsonan /b/ pada kata bǝra yang memiliki makna yang sama yaitu marah, memarahi, atau gusar. Kata gǝra digunakan dalam kalimat untuk tindakan yang menjelaskan keadaan tidak senang, berang, gusar, marah atau memarahi atas orang, hewan atau sesuatu yang berbuat salah atau tidak sesuai keinginan. Misalnya, marah pada anak yang nakal, marah pada kucing yang mencuri ikan, marah pada benda yang kembali rusak setelah berkali-kali diperbaiki. Sedangkan, kata bǝra digunakan dalam kalimat untuk tindakan marah yang dilakukan oleh ayam (betina maupun jantan). Tindakan ini lazimnya dilakukan oleh ayam betina yang hendak melindungi anaknya yang masih kecil dari gangguan binatang lain maupun manusia.
Contoh: (1) ine ki gǝra kai iwa mbana sekola na.
Ibu dia marah dia tidak pergi sekolah.
Ibunya marah karena dia tidak pergi ke sekolah.
(2) manu bǝra ki, kai ganggo ana manu na.
Ayam marah dia, dia ganggu anak ayam.
Ayam itu memarahi dia karena mengganggu anaknya.
Pada kalimat (1) makna kata marah mengacu pada tindakan yang menyebabkan kekesalan pada seorang ibu karena sebuah kesalahan yang dilakukan oleh seorang anak (tidak ke sekolah). Pada kalimat (2) maknanya mengacu pada tindakan gusar atau marah yang dilakukan oleh ayam betina pada hewan lain atau manusia yang sengaja mengganggu anaknya yang masih kecil atau ketika ayam diadu.
Secara fonologis, proses dibuatnya fonem /g/ dan /b/ berbeda. Perbedaannya terletak pada tempat artikulasi. Fonem /g/ adalah dorsovelar–hambat–bersuara (punggung lidah mendekati velum), sedangkan fonem /b/ adalah bilabial–hambat–bersuara (bibir bawah menyentuh bibir atas).
Persamaan dari kedua bunyi tersebut adalah sama-sama vois yakni getarnya pita suara ketika kedua bunyi itu dihasilkan atau bunyi yang disertai dengan getaran pada pita suara. Dalam fitur distingtif konsonan, /g/ adalah [+vois] dan /b/ adalah [+vois].
6.         Variasi Bunyi /t/,  /p/ dan /m/
Variasi bunyi konsonan /t/ pada kata tǝku dan bunyi konsonan /p/ pada kata pǝku yang memiliki makna yang sama yakni lengkung atau melengkung. Muncul pula kata mǝku yang memiliki makna berbentuk melengkung seperti bentuk busur setelah dilengkungkan atau setelah melakukan tindakan pǝku atau tǝku. Kata mǝku merupakan kata sifat. Kata pǝku digunakan dalam kalimat untuk menjelaskan tindakan melengkungkan benda berupa kayu atau besi yang berukuran kecil dan panjang sehingga berbentuk seperti busur atau kedua ujung benda tersebut dapat bertemu. Kata tǝku digunakan dalam kalimat untuk menjelaskan tindakan melengkungkan sesuatu sehingga menyerupai busur atau menunduk. Kedua kata ini juga dimaknai atau diistilahkan untuk seseorang yang kepalanya tertunduk takut karena sedang dimarahi atau dinasihati atau tertunduk malu.
Contoh: (1) Pǝri na kalo rhewa na pǝku embe ka.
Bambu ini kalau panjang melengkung hilang sudah.
Kalau sudah panjang bambu ini akan melengkung.

(2) Uzu ki pǝku rhimba nggǝna seru na.
Kepalanya tunduk terus kena marah.
Kepalanya tertunduk saat dimarahi.

(3) Ndawa na ja'o pati tǝku pǝka nde.
Bilah bambu ini saya kasih lengkung sudah tadi.
Saya sudah lengkungkan bilah bambu ini.
(4) Urhu ma'e tǝku kalo ja'o gǝra na.
Kepala jangan tunduk kalau saya marah itu.
Jangan menundukkan kepala kalau saya sedang marah.

(5) Ma'e endo, pǝri mǝku embe so.
Jangan ayun, bambu lengkung hilang nanti
Jangan diayun, nanti bambu itu melengkung.
Munculnya perbedaan pada ketiga fonem di atas, yakni /t/, /p/ dan /m/ bukan merupakan suatu kebetulan karena ketiga fonem tersebut memiliki hubungan pada proses menghasilkan bunyi. Fonem /p/ dan /m/ adalah dua buah fonem yang berasal dari satu tempat artikulasi yakni bilabial (dua buah bibir yang saling bertemu). Namun, cara artikulasi keduanya berbeda. Sedangkan fonem /t/ merupakan fonem yang cara artikulasinya sama dengan fonem /p/ yakni hambat (letup) namun perbedaannya terletak pada tempat artikulasi. Fonem /p/ merupakan fonem bilabial yakni fonem yang diproduksi dengan dua bibir sebagai artikulator sedangkan fonem /t/ merupakan fonem apikodental yakni fonem yang pembentukan bunyinya dengan mendekatkan atau menempelkan ujung atau daun lidah pada pangkal gigi atas.
Berdasarkan jenis hambatannya, kedua fonem ini merupakan fonem dengan bunyi stop atau bunyi letup yakni bunyi yang dihasilkan dengan udara terhenti sama sekali dan dilepaskan dengan tiba-tiba. Juga merupakan bunyi tak bersuara, karena bunyi yang dihasilkan dengan udara kecil, sehingga pita suara tidak mengalami getaran besar.
Adapun persamaan dari fonem /t/, /m/, dan /p/ jika dilihat dari fitur distingtifnya merupakan fonem anterior (bunyi yang dibuat di bagian depan mulut.
/t/
/p/
/m/
[+konsonantal]
[+anterior]

[-straiden]
[-kontinuan]
[+konsonantal]
[+anterior]
[-koronal]
[-straiden]
[-kontinuan]
[+konsonantal]
[+anterior]
[-koronal]
[+vois]
[+nasal]

Dari fitur distingtif di atas terlihat adanya persamaan dari ketiga fonem tersebut yang ditandai dengan simbol + (plus) dan – (minus). Menurut para linguis, simbol – (minus) dalam fitur distingtif bukan menyatakan perbedaan antarfonem melainkan persamaan.
7.         Variasi Bunyi /s/ dan /t/
Variasi bunyi konsonan /s/ pada kata soke dan bunyi konsonan /t/ pada kata toke yang sama-sama memiliki makna tancap. Kata soke digunakan dalam kalimat untuk tindakan atau pekerjaan menancapkan benda berupa kayu, pisau, parang, dan tombak. Kata toke digunakan dalam kalimat untuk menyebutkan atau menjelaskan kayu, pisau, parang, atau tombak yang telah tertancap di tempat dimana benda tersebut ditancapkan.
Contoh: (1) piso na soke rhimba pa ndia we.
Pisau itu tancap terus di sini saja.
Pisau ditancap di sini saja.
(2) topo na toke rhimba re pusu ko rongo.
 Parang itu tancap terus di jantung punya kambing.
 Parang itu tertancap di jantung kambing.
Pada kalimat (1) makna tancap digunakan ketika seseorang melakukan kegiatan menancapkan sesuatu, yakni pisau pada sesuatu yang lain agar pisau tersimpan dengan baik. Sedangkan, pada kalimat (2) makna tancap dipakai setelah kegiatan atau tindakan menancapkan sesuatu, dalam kalimat di atas adalah parang. Kalimat (2) memiliki makna telah tancap.
Munculnya fonem /s/ dan /t/ yang melengkapi fonem /o, k, dan e/ menjadi /soke/ dan /toke/ memang dirasakan sangat jarang ditemui dalam struktur fonologis bahasa manapun. Apalagi menjadikan makna dan pemakaian kata atau morfem yang dimasukinya menjadi sama. Perbedaan ini dapat dilihat pada proses menghasilkan bunyi tersebut. Fonem /s/ adalah laminopalatal–frikatif sedangkan /t/ adalah apikoalveolar–hambat. Sumber lain menyebutkan fonem /s/ adalah dental–frikatif, sedangkan fonem /t/ adalah dental–plosif.
Namun, keduanya memiliki persamaan dalam fitur distingtif konsonan. Adapun persamaan kedua fonem tersebut dilihat dari fitur distingtif konsonan, keduanya sama-sama anterior, yakni bunyi yang dibuat di bagian depan mulut dan sama-sama koronal, yakni bunyi yang dibuat di bagian tengah atas mulut. Jadi, /s/ dan /t/ adalah [+anterior] dan [+koronal].
8.         Variasi Bunyi /t/ dan /k/
Variasi bunyi konsonan /t/ pada kata tiwu dan bunyi konsonan /k/ pada kata  kiwu yang memiliki makna yang sama yakni kumpul. Kata tiwu digunakan dalam kalimat untuk menyebutkan sesuatu yang berkumpul dalam satu kelompok atau menyebutkan kumpulan suatu benda. Misalnya, kumpulan air hujan yang menggenang atau sekumpulan orang yang berada dalam satu tempat. Sedangkan, kata kiwu digunakan dalam kalimat untuk menyebutkan tindakan mengumpulkan sesuatu sehingga menjadi satu.
Contoh: (1) miu tiwu pa na tau apa na?
Kalian kumpul di sini buat/bikin apa itu?
Buat apa kalian berkumpul di sini?
(2) kiwu si doi na, kita wi mbǝta bako.
 Kumpul sudah uang itu, kita akan beli rokok.
 Kumpulkan uang, kita akan membeli rokok.
Pada kalimat (1), kata tiwu digunakan unuk menyebutkan sebuah tindakan bersama-sama menjadi satu kesatuan atau kelompok (tidak terpisah-pisah). Sedangkan, pada kalimat (2) kata kiwu digunakan untuk menyatakan tindakan ajakan, yakni mengumpulkan sesuatu dari yang terpisah atau sedikit menjadi bersatu atau banyak. Kedua kata tersebut sama-sama digunakan untuk menjelaskan atau menyebutkan sesuatu yang terpisah menjadi bersatu dalam jumlah yang banyak.
Dilihat dari bidang fonologis, fonem /t/ dan /k/ yang melengkapi fonem /i, w, dan u/ menjadi tiwu dan kiwu serta memiliki makna kumpul sesungguhnya merupakan kejadian yang sangat tidak lazim dalam sebuah bahasa. Fonem /t/ diproduksi pada tempat artikulasi bernama apikoalveolar, yakni ujung lidah berada persis di belakang pangkal gigi atas dan mengalami hambatan (bunyi letup) pada saat udara keluar dari paru-paru. Sedangkan, fonem /k/ dihasilkan dari dorsovelar dan mendapatkan hambatan pada belakang lidah beberapa saat ketika akan keluar dari paru-paru untuk membentuk sebuah bunyi. Keduanya merupakan fonem tak bersuara.
9.         Variasi Bunyi /p/ dan kluster /mb/
Variasi bunyi konsonan /p/ pada kata pǝra dan kluster /mb/ pada kata mbǝra yang secara gramatikal memiliki makna yang sama yakni padam. Kata pera artinya memadamkan sesuatu yang menyala (api, lampu, dsb.), sedangkan kata mbǝra artinya sesuatu yang menyala (api, lampu, dsb.) telah padam.
Contoh: (1) pati pǝra si api na!
Kasih padam sudah api itu!
Padamkan api itu!
(2) lapu re mbeki mbǝra ka rha’e?
 Lampu di kamar padam sudah belum?
 Lampu di kamar sudah dipadamkan atau belum?
(3) api mbǝra ka.
 Api padam sudah.
 Api sudah padam.
(4) ja’o wi mbana pi’a watu re ma’u.
 Saya akan pergi pecah batu di pantai.
 Saya akan pergi untuk memecahkan batu di pantai.
(5) bola na mbi’a embe ka(peka)
 Bola ini pecah hilang sudah
 Bola ini sudah pecah
Kata pǝra pada kalimat (1) digunakan untuk melakukan tindakan memadamkan api atau sesuatu yang menyala lainnya. Sedangkan, pada kalimat (2) dan (3) adalah pernyataan yang menyatakan bahwa sesuatu yang menyala telah padam (dipadamkan). Namun, kedua kata ini juga dapat digunakan bergantian tanpa perlu melihat tempat dan keadaan dipakainya kedua kata tersebut. Jadi, kalimat (1), (2) dan (3) bisa menggunakan kata pǝra maupun mbǝra.
Pada kalimat (4) kata pi’a digunakan untuk melakukan tindakan berupa memecahkan benda dan sebagainya. Sedangkan, pada kalimat (5) kata mbi’a digunakan menyebutkan hasil dari tindakan yang dijelaskan pada kalimat (4). Jadi, kalimat (4) merupakan tindakan dan kalimat (5) merupakan hasil.
Munculnya perbedaan pada fonem /p/ dan gugus konsonan /mb/ merupakan perbedaan yang wajar karena diantara ketiga fonem tersebut, yakni /p/, /m/, dan /b/ adalah fonem yang berasal dari satu sumber yang sama yakni bilabial. Bilabial merupakan sumber artikulasi yang prosesnya berasal dari dua buah bibir, yakni bibir atas dan bibir bawah yang saling bertemu dan menghasilkan bunyi hambat (letup) ketika udara dikeluarkan. Bunyi yang dihasilkan dalam proses ini yakni /b/ dan /p/. Sedangkan bunyi /m/ adalah bunyi nasal, yakni bunyi yang udaranya dikelurkan melalui hidung.
10.     Variasi Bunyi /s/ dan /j/
Variasi bunyi konsonan /s/ pada kata siu dan /j/ pada kata jiu yang sama-sama memiliki makna yang sama yaitu juling (salah satu cacat mata).
Contoh: (1) ata ine na rhemata ki siu.
Orang ibu itu mata dia/-nya juling
Ibu itu matanya juling
(2) ana ata kai dhadhi na rhemata jiu
 Anak yang dia lahir itu mata juling
 Anak yang dilahirkannya matanya juling
Pernyataan yang terdapat dalam kalimat (1) dan (2) memiliki pengertian yang sama yakni menyatakan keadaan seseorang yang mempunyai cacat mata yang disebut sebagai juling. Kata siu maupun jiu dalam kedua kalimat di atas dapat ditukar tanpa merubah makna sebenarnya karena keduanya memiliki makna yang sama dan dapat dipahami dalam konteks percakapan.
Dalam bidang fonologis, kedua kata di atas memiliki perbedaan, yakni masuknya fonem /s/ dan /j/ melengkapi morfem [iu] yang menyebabkan kata siu dan jiu memiliki makna yang sama. Perbedaannya terjadi pada cara artikulasi fonem tersebut. Fonem /s/ merupakan fonem laminopalatal-frikatif (geseran) sedangkan fonem /j/ merupakan fonem laminopalatal-afrikat (paduan). Keduanya berasal dari tempat arikulasi yang sama yakni laminopalatal. Laminopalatal adalah bunyi yang dihasilkan dengan menempatkan bagian depan lidah di dekat atau pada langit-langit keras. Keduanya memiliki kesamaan pada fitur distingtif yakni merupakan fonem straiden dan koronal. Straiden adalah bunyi yang dibuat dengan iringan desahan suara sedangkan koronal adalah bunyi dibuat di bagian tengah atas mulut.

4.1.3 Variasi Fonologis pada Proses Morfofonemik
Variasi fonologis yang muncul pada proses morfofonemik, antara lain:
4.1.3.1 Variasi Akibat Perubahan Fonem
a.    Variasi perubahan fonem /a/ pada prefiks pa- dan fonem /e/ pada prefiks pe-
Data yang ditemukan antara lain:
1.    Menyatakan saling
-          Pa + rore: bunuh : saling membunuh
Pe + rore: bunuh : saling membunuh
  Ari    ne   ka’e        perore        dhato
Adik dan kakak saling bunuh mendekat
Adik dan kakak saling membunuh

-          Pa + sengga: saling tikam, saling membunuh
Pe + sǝngga: saling tikam, saling membunuh
    Abe    na    mata       pesǝngga
Mereka   itu   mati   saling membunuh
Mereka mati karena saling membunuh
-          Pa + bheo: protes : saling protes
Pe + bheo: protes : saling protes
    Abe        pebheo     tana
Mereka saling protes tanah
Mereka saling protes tentang masalah tanah

2.    Menyatakan penunjukan (preposisi 'di')
-          Pa + nore: di sana
Pe + nore: di sana
Kai  penore
Dia di sana

-          Pa + sena: di situ/ke situ
Pe + sena: di situ/ke situ
 Ja'o  pesena nde  kai   iwa    rhatu
Saya  di situ  tadi dia   tidak   ada
Tadi saya disitu tapi dia tidak ada

-          Pa + ndia
Pe + ndia: sini : di sini/ke sini
   Kau          mai     pandia    we
Kau/kamu datang   ke sini   saja
Kamu kesini saja

b.    Variasi perubahan fonem /a/ pada prefiks sa- dan fonem /e/ pada prefiks se-
Data yang ditemukan antara lain:
1.    Menyatakan intensitas (tingkatan)
-          Sa + dhiki
Sedhiki: kecil : sedikit
Ja'o   ngarha   doi    sedhiki   we'e
Saya   dapat    uang  sedikit  saja
Saya dapat uang hanya sedikit

-          Sa + woso: banyak; sangat/lebih banyak
Se + woso: banyak; sangat/lebih banyak
Baba     jo   ngarha   ika       sewoso
Bapak saya  dapat    ikan sangat banyak
Bapak saya mendapatkan ikan yang sangat banyak



-          Sa + mere: besar; sangat/lebih besar
Se + mere: besar; sangat/lebih besar
Kai ngarha tana     semere       ma (mema)
Dia dapat tanah sangat besar     memang
Dia dapat tanah yang sangat besar (luas)

2.    Menyatakan waktu
-          Sa + rhera: hari, siang : dahulu
Se + rhera: hari, siang : dahulu
Kami  mera    pa   na   kere    serhera    ka
Kami  tinggal di   sini  sejak   dahulu    sudah
Kami tinggal di sini sudah sejak dahulu

3.    Menyatakan jumlah
-          Sa + kǝnggu: genggam; segenggam
Se + kǝnggu: genggam; segenggam
Ja'o kema onda ngarha are sekǝnggu
Saya bekerja hanya mendapatkan segenggam beras

-          Sa + uju
Se + uju: ikat : seikat
Dede   mbeta     kaju   seuju
Dede    beli       kayu  seikat
Dede membeli seikat kayu

-          Sa + esa: buah : sebuah, sebiji
Se + esa: buah : sebuah, sebiji
Andi    mbeta     bola    seesa
Andi     beli        bola   sebuah
Andi membeli sebuah bola

Masuknya fonem /e/ dan /a/ melengkapi fonem /k, e, dan t/ menjadi kǝte dan kǝta menjadi pemicu perbedaan fonologis dalam kata tersebut. Fonem /e/ diproduksi dengan posisi lidah adalah tengah meninggi-depan-tak bundar sedangkan fonem /a/ diproduksi dengan posisi lidah adalah bawah merendah-tengah-bundar.
Namun, di sisi lain keduanya memiliki persamaan. Persamaan tersebut dapat dilihat pada fitur distingtif vokal. Fonem /e/ memiliki  fitur  distingtif  [+vokalik],  [-tinggi],  [-belakang], [-bundar], [-tegang] sedangkan fonem /a/ memiliki fitur distingtif [+vokalik], [-tinggi], [+belakang], [-bundar], [-tegang]. Jadi, persamaannya adalah keduanya bukan merupakan vokal tinggi (posisi lidah), tidak bundar (bentuk mulut saat dituturkan), dan tidak tegang (keadaan urat untuk mengeluarkan bunyi).
Dalam bahasa-bahasa tertentu kedua bunyi tersebut dapat disatukan menjadi bunyi /e/ pepet, yakni jika diucapkan bukan bunyi /a/ dan bukan pula bunyi /e/ tetapi di antaranya. Secara ortografis, dituliskan dengan lambang [ǝ].
4.1.3.2 Variasi Akibat Pelesapan Bunyi Deret Vokal
Variasi pelesapan fonem dalam BE bukan terjadi pada proses morfofonemik melainkan pada kata dasar yang ber-Deret Vokal. Adapun kata dalam BE yang mengalami pelesapan fonem adalah sebagai berikut:
a.         Variasi Pelesapan Bunyi Deret Vokal pada kata ganti
Kata ganti dalam Bahasa Ende yang mengalami pelesapan fonem adalah perubahan kata ganti orang (pronomina persona) menjadi kata ganti milik (pronomina posesif). Pelesapan ini hanya terjadi ketika kata ganti milik tersebut berada di depan kata atau kalimat. Secara ortografis, tidak diketahui secara jelas dan pasti penulisannya, baik digabung atau pun tidak seperti halnya pada Bahasa Indonesia, yakni yang terjadi pada kata aku menjadi ku pada kalimat buku aku menjadi bukuku dan kamu menjadi mu pada kata buku kamu menjadi bukumu.
Contoh:
1. Deret Vokal /a-o/ dan /o/
-       jao dan jo : saya, aku
contoh:   na baba   jao = na baba jo
ini bapak saya
ini bapakku
2. Deret Vokal /a-u/ dan /u/
-       kau dan ku : kau, kamu
contoh:   emba  rhambu  kau? = emba rhambu ku?
mana    baju     kamu?
mana bajumu?
3. Deret Vokal /i-u/ dan /u/
-       miu dan mu : kalian
contoh:   emba  serhake   miu? = emba serhake mu?
mana   celana    kalian?
4. Deret Vokal /a-i/ dan /i/
-       kai dan ki : dia
contoh:   nasa kai  re kos = nasa ki re kos
pacar dia di kos.
pacarnya di kos.
b.      Variasi Pelesapan Bunyi Deret Vokal pada kata keterangan
1. Deret Vokal /a-i/ dan /i/
-       mbai dan mbi : terlalu
contoh:  rike ma’e mbai negi = rike ma'e mbi negi.
Ikat jangan terlalu kuat
-       wai dan wi : akan
contoh:  kami wai mbana re lo = kami wi mbana re lo.
Kami akan pergi ke pasar.
-            sai dan si : sudah; -lah
contoh:  kema    sai! = Kema si!
Kerja sudah!
Kerjakanlah!
Pelesapan yang terjadi dalam Bahasa Ende tidak serta merta menghilangkan kata utuhnya. Kata utuh maupun kata yang mengalami pelesapan dapat digunakan kapanpun dalam kalimat secara bergantian dengan tidak mengubah makna kata atau kalimat yang dimasukinya.
Dari deret vokal pada data di atas, terlihat bahwa fonem yang berada di depanlah yang muncul dan berubah sebagai kata baru tetapi dengan makna dan penggunaan yang tetap sama.
Berterimanya fonem yang berada di depan fonem sebelumnya sebagai kata baru karena waktu antara lepasnya udara untuk mengucapkan konsonan dengan getaran pita suara untuk bunyi vokal yang mengikutinya lebih singkat atau cepat dibanding fonem di depannya. Artinya, ketika fonem  belakang diucapkan dan akan mengambil fonem berikutnya, dengan waktu yang singkat fonem yang berada di depan pun diucapkan. Kata miu misalnya. Waktu untuk mengucapkan fonem /i/ lebih singkat daripada fonem /u/. Begitu pula yang terjadi pada kata-kata yang tertera pada data di atas.

4.2  Faktor-faktor Penyebab Variasi Fonologis
Variasi fonologis dalam Bahasa Ende terjadi sebagai akibat dari perubahan bunyi pada kata atau morfem. Perubahan bunyi ini terjadi pada fonem vokal dan konsonan yang menempati kata atau morfem dengan tidak mengubah makna kata. Beberapa kata yang mengalami proses perubahan bunyi mengalami perbedaan pada penggunaan kata tersebut dalam kalimat sedangkan beberapa yang lainnya tetap pada makna dan penggunaan yang sama dalam kalimat. Bahkan ketika kata tersebut ditukargantikan posisinya dalam kalimat.
Namun demikian, fonem-fonem, baik vokal maupun konsonan yang mengalami perubahan tersebut jika dilihat dari struktur fonologisnya memiliki perbedaan, baik tempat artikulasi maupun cara artikulasinya. Misalnya, perubahan bunyi /g/ yang terjadi pada kata gera menjadi bunyi /b/ pada kata bera yang dimana keduanya memiliki makna yang sama yakni marah namun kedua fonem tersebut berasal dari tempat dan cara arikulasi yang berbeda. Akan tetapi, jika ditilik lebih jauh dalam kajian fonologi, maka perbedaan tersebut dapat ditransparansi seperti menggunakan daftar klasifikasi vokoid dan kontoid maupun fitur distingtif fonem.
Munculnya perubahan bunyi yang menyebabkan variasi fonologis dalam sebuah kata tentunya disebabkan oleh faktor-faktor tertentu. Beberapa di antara perubahan bunyi dalam Bahasa Ende ini dirasakan tidak sesuai dengan struktur fonologis apalagi kata yang mengalami perubahan bunyi tersebut tidak mengalami perubahan makna kata.
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan munculnya variasi fonologis ini dapat dikaji secara internal maupun eksternal. Secara internal, bunyi-bunyi dalam sebuah bahasa sebetulnya memiliki beberapa kesamaan. Kesamaan-kesamaan ini tidak selamanya dilihat dari bagaimana bunyi itu dibuat namun dapat juga dilihat dari faktor-faktor lain yang lebih dalam seperti fitur distingtif vokal dan konsonan serta daftar klasifikasi vokoid maupun kontoid. Sebuah fonem vokal dapat memiliki fitur distingtif yakni vokalik, tinggi, belakang, bundar, dan tegang. Sedangkan, sebuah konsonan dapat memiliki fitur distingtif yaitu konsonantal, anterior, koronal, vois, nasal, straiden, dan kontinuan. Perbedaan di antara fonem berdasarkan fitur distingtif ini dapat dilihat dari segi oposisi yang sifatnya biner, sesuatu itu ya atau tidak. Dalam ilmu fonologi ditandai dengan simbol + dan -.
Bahasa-bahasa di dunia memiliki sistem pengaturan fonem atau biasa disebut fonotaktik yang berbeda. Dengan adanya sistem tersebut memungkinkan fonem-fonem yang terdapat dalam sebuah bahasa dapat diatur secara manasuka (arbitrer) dan dapat disetujui oleh masyarakat penutur (konvensional). Oleh karena itulah, meskipun terdapat dua atau lebih fonem yang berbeda cirinya dalam sebuah kata, tetap dapat diterima oleh masyarakat penutur tanpa harus mempertimbangkan kesamaan ciri atau pasangan minimum fonem tersebut.
Secara eksternal, faktor yang menyebabkan munculnya variasi fonologis dalam penelitian ini adalah kehidupan masyarakat Desa Borokanda yang heterogen. Hal ini dilihat dari munculnya penduduk yang berasal dari luar daerah dan menetap di desa tersebut. Misalnya, masyarakat yang berasal dari Bajawa, Kabupaten Ngada (Nio I) yang hidup sejak jaman penjajahan Belanda. Masyarakat ini memiliki bahasa yang hampir sama, namun memiliki dialek dan aksen yang berbeda dari masyarakat Ende. Hal tersebut yang menyebabkan munculnya kata rhasu dalam BE di Desa Borokanda yang oleh masyarakat Bajawa menyebut sebagai lasu.
Selain masyarakat yang berada dari luar Kabupaten Ende, ada pula masyarakat yang berasal dari luar desa seperti Nangapanda, Pulau Ende, Wolowaru (Lio). Selain itu, juga ada kata-kata dalam BE yang telah jarang digunakan dalam kalimat seperti kata wedhu yang maknanya cabut atau mencabut yang dirasakan terlalu kasar dari pada kata wedha yang memiliki makna yang sama yaitu cabut atau mencabut. Menurut informan dalam penelitian ini, kata wedhu dapat bermakna pada sindiran, ejekan, dan bahkan makian halus. Juga, kata wedhu ini, menurut informan, sebetulnya dipakai oleh penutur BE yang mendiami wilayah Kecamatan Nangapanda. Namun, oleh karena adanya peristiwa kawin mawin dan sebagainya, apalagi BE merupakan bahasa yang hanya memiliki satu dialek saja dalam wilayah geografis dialek. Artinya, dapat digunakan oleh siapa saja tanpa memandang status sosial maupun usia penutur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar